Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Tak Merasa Minder, Para Penyandang Disabilitas Trenggalek Bagi Takjil

Sabtu, 09 Jun 2018 10:11 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERBAUR : Slamet salah seorang difabel dibantu warga dan polisi, sedang membagikan takjil di depan Pendapa Manggala Praja Nugraha kemarin (6/6).

BERBAUR : Slamet salah seorang difabel dibantu warga dan polisi, sedang membagikan takjil di depan Pendapa Manggala Praja Nugraha kemarin (6/6). (TITIN RATNA/RADAR TRENGGALEK)

Memiliki keterbatasan fisik tidak menghalangi para penyandang disabilitas atau difabel untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Kemarin (6/6), mereka turun ke jalan, berbaur dengan masyarakat dalam bingkai kegiatan sosial.

AGUS MUHAIMIN

Alun-alun Kota Keripik Tempe menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Trenggalek. Biasanya, area terbuka hijau ini menjadi jujugan untuk bersantai saat sore hari.

Selama Ramadan ini, kondisi alun-alun kian ramai oleh aktivitas warga. Ada yang berolahraga, ada yang hanya sekadar bersantai, ada juga yang kumpul bareng komunitasnya, hingga bagi-bagi takjil. Itu juga yang terjadi pada Rabu (6/6) lalu.

Namun, pemandangan jadi berbeda ketika yang membagikan takjil kepada para pengguna jalan tersebut adalah anak-anak atau orang dengan keterbatasan fisik. Tentu bisa dibayangkan bagaimana yang terjadi.

Ya, karena kondisi fisik yang tidak sempurna, tentu bukan hal mudah bagi mereka untuk melakukan kegiatan tersebut. Kursi roda yang dikenakan pun tidak cukup membantu mereka untuk melakukan aktivitas.

Meski begitu, mereka tidak patah semangat dan terus berusaha memberikan bungkusan takjil.

Melihat kondisi yang demikian, tak urung sejumlah warga dan pengguna jalan pun tergerak hati. Mereka membantu usaha penyandang disabilitas ini. Benar saja, setelah sedikit bersusah payah dan dibantu oleh beberapa orang, akhirnya bungkusan takjil tersebut bisa diterima pengguna jalan yang melintas.

“Salut, mereka tidak minder dengan kondisi yang terbatas itu,” ujar Widodo, salah seorang pengguna jalan.

Wajah mereka yang sering terlihat tersenyum tentu membuat takjub. Ya, mereka seolah tak memiliki kekurangan apa pun.

“Senang sekali bisa beri takjil,” kata Slamet, salah seorang difabel dengan artikulasi kata yang cukup sulit dimengerti.

Slamet dan rekan-rekannya ini sudah terbiasa dengan masak-memasak.

Tak hanya itu, mereka juga sudah terbiasa menerima pesanan makan dari masyarakat di sekitar tempat mereka tinggal, Yayasan Penyandang Disabilitas ‘Naema’, di Kelurahan Ngantru. Sehingga bukan hal baru bagi mereka jika hanya sekadar membagikan takjil kepada para pengguna jalan.

Sedikit banyak, Slamet dan rekan-rekannya ini sudah bisa mandiri tanpa harus menggantungkan nasib kepada orang lain. Meskipun dalam prosesnya, tetap membutuhkan bimbingan dan arahan.

“Ya, sudah ada puluhan jenis usaha yang kini ditangani oleh Slamet dan rekan-rekan,” ujar Taryaningsih, ketua yayasan penyandang disabilitas ’Naema’.

Ide untuk menggelar baksos ini juga disambut antusias oleh para penyandang disabilitas yang ada di yayasannya. Dia berharap, dengan kegiatan sosial ini, para difabel bisa berbaur dan diterima masyarakat. Sedangkan untuk pribadi para penyandang disabilitas, dia menyisipkan misi agar mereka menyadari indahnya berbagi dengan sesama.

“Itu juga sebagai pelajaran pentingnya berbagi dengan orang lain,” tuturnya.

Takjil yang dibagikan pun berupa makanan ringan, nasi kotak, serta minuman sari tebu, yang merupakan hasil buatan mereka sendiri. Totalnya ada sekitar 300 takjil yang sore itu dibagikan.

Uniknya, sebagian takjil tersebut diproduksi langsung di lokasi pembagian. Salah satunya sari tebu.

Dengan baksos ini, Tari -sapaannya- berharap bisa menumbuhkan semangat dan mental para anak asuhnya menjadi disabilitas zaman now, no minta-minta, no dikasihani. Karena mereka bisa mandiri dan berwirausaha.

Selesai pembagian takjil, mereka melaksanakan buka bersama di dalam pendapa kabupaten, bergabung bersama penyandang disabilitas lain dari seluruh Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

“Selama ini, orang kebanyakan bilang disabilitas itu kasihan dan juga mungkin kita dikasihani. Maka dari itu, kali ini kami mengambil tema disabilitas zaman now, no minta-minta, no dikasihani,” terang Taryaningsih. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia