Rabu, 22 Aug 2018
radartulungagung
icon featured
Politik

Klaim Ada Unsur Politis Pada OTT Tim KPK di Tulungagung

Senin, 11 Jun 2018 10:05 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Grafis Klaim Ada Unsur Politis

Grafis Klaim Ada Unsur Politis (Hendra Novias/RATU)

TULUNGAGUNG - Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto angkat bicara soal operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Termasuk mencatut Syahri Mulyo sebagai calon bupati (cabup) Tulungagung dalam pilkada 27 Juni mendatang.

Dia mengklaim, adanya kejadian itu mengandung unsur politik. Sebab, elektabilitas calonnya (Syahri-Maryoto) sesuai survei terakhir terus tinggi yakni 63 persen.

“Karena itulah banyak yang menduga ini berkaitan dengan kontestasi pilkada. Sehingga dilakukan OTT dengan cepat,” ungkapnya usai apel dan buka bersama di kediaman Syahri Mulyo kemarin (10/6).  

Dia menegaskan, KPK harus bisa membuktikan bahwa OTT yang dilakukannya di Tulungagung dan Blitar benar-benar terlepas dari muatan politis. Hukum harus ditegakkan termasuk prinsip keadilan.

Dia terus mencari dan mengumpulkan fakta-fakta yang ada. Termasuk adanya bantuan hukum yang akan diberikan kepada Syahri Mulyo dan Wali Kota Blitar Samanhudi. Itu juga berkaitan kentalnya asas politik.

“Kami akan siapkan tim advokat agar tidak terjadi benturan di tengah masyarakat,” jelasnya.

Di tempat sama, anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan menegaskan, adanya penetapan tersangka terhadap Syahri Mulyo dan juga Samanhudi (Blitar) kental bermuatan politis.

Selain itu, juga kental oknum KPK ditunggangi kepentingan tertentu. Salah satu indikasinya, masih banyak laporan lain yang jumlahnya lebih besar, tidak dilakukan OTT oleh KPK.

“Tapi yang tidak terlihat, yang senyap-senyap, yang sedang mau pemilu, justru di-OTT,” ujar Arteria Dahlan.

Terkait dengan kondisi tersebut, pria ramah itu mengaku sudah berkoordinasi di lintas komisi, bahkan pimpinan DPR. Hasilnya, semua sepakat untuk mencermati terhadap OTT KPK di Tulungagung dan Blitar.

“Sebab, ini bukan OTT. Kalau OTT itu tertangkap seketika,” jelasnya. (wen/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia