Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Musim Kemarau Panjang, Produksi Padi Tersendat

20 Juni 2018, 10: 09: 44 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

LUAS: Semua lahan sawah di Desa Wajak Kidul,  Kecamatan Boyolangu, saat ini ditanami padi.

LUAS: Semua lahan sawah di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, saat ini ditanami padi. (RIDHO WISNU INDARTO/RATU)

TULUNGAGUNG – Musim kemarau panjang, membuat produktivitas tanaman padi tersendat di Kota Marmer ini. Bahkan, target dicanangkan Dinas Pertanian (Disperta) Tulungagung meleset dari perkiraan semula.

Kepala Disperta Tulungagung Suprapti mengatakan, dia memulai sistem tanam padi pada Oktober-Maret dan akan dilanjutkan pada musim tanam April-September. Target yang harus dipenuhi dalam 6 bulan pertama, Oktober sampai Maret, mencapai 34.355 ton, sedangkan realisasi 32.567 ton.

Dia tak menepis jika pada masa tanam tersebut produksi sedikit tersedat karena mengalami musim kemarau panjang. Sehingga beberapa petani mengalihkan tanaman mereka ke jagung.

“Produksi jagung kita justru meningkat pada musim Oktober hingga Maret. Kalau untuk padi sekitar 94 persen realisasinya,” ungkapnya.

Sedangkan target panen padi pada April sampai September mencapai 24.500 ton. Hingga Mei realisasi sudah 14.156  ton atau masih sekitar 56 persen dari target. Apalagi masih empat bulan lagi, maka ada kesempataan memenuhi target.

“Kalau untuk padi di Tulungagung terjamin, target panen untuk 2018 insyaallah akan kita lampaui. Semoga terus stabil dan meningkat,“  jelasnya.

Dia menjelaskan, produktivitas tanaman tahun 2018 jika dibandingkan tahun 2017 mengalami peningkatan. Jika dilihat dari provitasnya atau produksi per hektare tahun 2017 sekitar 5.814 kuintal, sedangkan tahun 2018 mencapai 7.196 kuintal.

Dia merencanakan, tahun ini Tulungagung mengirim sekitar 84.000 ton padi ke daerah lain.

“Untuk padi dan jagung kita sudah bisa kirim keluar daerah,” ujarnya.

Untuk kini, masih menjadi kendala di Tulungagung di sektor pertanian mengenai produktivitas kedelai.

“Kebutuhan kedelai mencapai 11.000 ton per tahun, sedangkan kita hanya produksi kedelai 1.000 ton per tahun. Sehingga produksi untuk industri kedelai kita masih impor,” katanya.

Bagaimana mengantisipasi agar hama tidak mengganggu produktivitas panen? Dia meminta tambahan obat ke Disperta Jawa Timur agar diberikan kepada petani-petani yang sudah terdaftar di Disperta Tulungagung.

“Karena untuk obat hama di kabupaten belum ada, saya meminta bantuan ke provinsi,” tandasnya. (c1/ed/din)

                 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia