Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Blitar

PAD Sektor Wisata Overload Selama Lebaran

Jumat, 22 Jun 2018 11:03 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Grafis Realisasi Pendapatan Sektor Wisata selama Lebaran

Grafis Realisasi Pendapatan Sektor Wisata selama Lebaran (Alwik Ruslianto/RATU)

TRENGGALEK – Pemerintah Kota Keripik Tempe tampaknya boleh sedikit tersenyum. Pasalnya, lebih dari Rp 500 juta pendapatan dari sektor wisata bisa dikeruk selama momen Lebaran tahun ini. Ini tentu menjadi kabar baik sekaligus perhatian, mengingat sebelumnya hanya menargetkan sekitar Rp 100 juta saja selama momen Lebaran ini.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Joko Irianto mengakui, prediksi pendapatan selama momen Lebaran jauh dari target yang dibayangkan.

Jika sebelumnya pihaknya menaksir puncak kunjungan hanya akan terjadi pada tanggal 18-19 Juni alias H+ 4 dan 5, kenyataannya antusiasme wisatawan masih berlaku hingga tanggal 20 Juni kemarin.

Pihaknya juga membantah jika target yang ditetapkan sebelumnya hanya Rp 100 juta selama momen Lebaran. Menurutnya, angka itu merupakan akumulasi pendapatan sektor wisata selama sehari saja. Dengan demikian, pendapatan ditaksir tidak jauh dari Rp 200 juta selama momen Lebaran tahun ini.

“Per tanggal 20 Juni kemarin, pendapatan kita sudah lebih dari Rp 500 juta,” katanya kemarin (21/6).

Pantai Karanggongso alias Pasir Putih di Kecamatan Watulimo masih menjadi primadona dalam menunjang pendapatan itu.

Disusul oleh Pantai Pelang di Kecamatan Panggul, Pantai Prigi, dan Goa Lawa. Total selama libur Lebaran ini, ada sekitar Rp 525 juta pendapatan dari sektor retribusi wisata.

Joko-sapaannya menyebut tanda-tanda peningkatan kunjungan wisata sudah mulai terlihat pada H+2 Lebaran.

Dengan capaian pendapatan retribusi wisata mencapai hampir Rp 50 juta per hari, ini untuk total di empat destiniasi wisata tersebut. Hari berikutnya, terdapat kenaikan yang cukup signifikan dengan mendapatkan pendapatan sekitar Rp 110 juta pada H+3. Begitu juga pada H+4 yang berhasil dibukukan pedapatan lebih dari Rp 140 juta dalam sehari.

“Pasir putih diminati karena lebih aman dan pemandangannya bagus,” imbuhnya.

Menurutnya, kendati satu lokasi di Kecamatan Watulimo, Pantai Prigi kalah jauh dengan pendapatan dari Pantai Karanggongso. Pasalnya, di lokasi ini ombaknya lebih tinggi ketimbang di pasir putih. Sehingga cukup berbahaya jika pengunjung ingin menghabiskan waktu untuk bermain air laut.

Di sisi lain, saat ini masih terdapat kekurangan di Pantai Karanggongso. Salah satunya mengenai aktivitas perahu-perahu wisata.

Pihaknya juga mendengar bahwa selama ini keberadaan perahu wisata terkadang membuat aktivitas wisatawan kurang nyaman. Pasalnya, setelah mereka sampai di lokasi wisata, langsung di serbu oleh guide atau para operator perahu wisata. Tak hanya itu, banyaknya perahu wisata di bibir pantai tersebut juga mengurangi keleluasaan pengunjung yang ingin bermain air laut.

“Makanya, nanti kami itu ingin ada pelabuhan untuk tambatan perahu wisata ini biar lebih tertib,” harapnya.

Sebelumnya, kalangan dewan menilai target pendatapan yang dipatok Rp 100 juta selama momen Lebaran tidak progresif. Itu karena nilai tersebut dianggap terlalu rendah jika melihat lamanya libur hari raya dan banyaknya potensi wisata yang ada di Kota Keripik Tempe.

“Itu namanya tidak kerja, libur cuti bersama kita lho lama sekali,” kata Ketua Komisi II Mugianto.

Pihaknya mensinyalir proyeksi pendapatan tersebut tidak menggambarkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan sektor pendapatan. Padahal, anggaran yang digunakan untuk promosi wisata selama ini sangatlah tinggi alias sangat jauh dari target pendapatan tersebut.

“Ada apa ini?” imbuhnya.

Alasan momen lebaran yang hanya efektif dua hari untuk kunjungan wisata juga dirasa terlalu mengada-ada. Menurutnya, sebagaimana pengalaman yang sudah ada, kunjungan wisata itu dimulai H+3 Lebaran. Untuk itu, tidak tepat jika dinas memprediksi potensi wisata hanya pada tanggal 18 dan 19 Juni.

Terlebih lagi, pada hari hari itu dimungkinkan akan ada banyak sekali wisatawan dari luar kota yang juga ingin bersantai menikmati keindahan alam di Kota Keripik Tempe.

“Belum lagi para perantau yang tentu ingin pulang melihat perkembangan di daerahnya,” tukasnya. (hai/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia