Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Tiga Desa Mulai Kekeringan

11 Juli 2018, 14: 05: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS KEKERINGAN DI TRENGGALEK

GRAFIS KEKERINGAN DI TRENGGALEK (Alwik Ruslianto/RATU)

TRENGGALEK - Masyarakat Trenggalek harus lebih berhemat menggunakan air bersih. Pasalnya, beberapa daerah di Kota Keripik Tempe ini mulai merasakan dampak musim kemarau. Daerah itu antara lain Desa Besuki, Kecamatan Panggul; serta Desa Timahan dan Bogoran, Kecamatan Kampak. Tiga desa di dua kecamatan ini kekurangan air bersih. Bahkan, sejak Juni lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mendapatkan laporan permintaan air bersih.

“Desa-desa tersebut telah mengajukan permintaan bantuan air bersih menjelang hari raya lalu,” ungkap Kasi Logistik BPBD Trenggalek Putut Mahendradata.

Putut Mahendradata mengatakan, jumlah permintaan air bersih diprediksi akan terus bertambah, seiring masih berlangsungnya musim kemarau.

Namun, saat ini hanya dua desa di wilayah Kecamatan Kampak yang masih mengajukan permintaan pengiriman air bersih. Sebab, sejauh ini Desa Besuki, Kecamatan Panggul, belum mengajukan permintaan lagi setelah Lebaran. Kemungkinan ini karena beberapa waktu lalu masih turun hujan. Sehingga persediaan air di wilayah tersebut masih cukup.

“Jika ada permintaan, pastinya kami akan lagsung mengirimkan. Sebab, tahun ini Desa Besuki yang kali pertama mengajukannya,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan catatan di BPBD Trenggalek di 2017 lalu, sedikitnya ada 16 desa di delapan kecamatan yang biasanya meminta bantuan air bersih.

Jumlah itu lebih sedikit dibanding 2015 lalu yang mencapai 43 desa di 13 kecamatan. Sebab, hanya desa di wilayah Kecamatan Gandusari saja yang tidak mengajukan permintaan bantuan air bersih.

Potensi kekeringan di Trenggalek sangat bervariasi. Mulai dari ringan, sedang, hingga tinggi. Sedangkan daerah yang masuk peta rawan rata-rata berada di wilayah pegunungan. Seperti Kecamatan Panggul, Dongko, Suruh, Pule, Bendungan, dan Kampak.

Mengantisipasi dampak yang dihasilkan dari kekeringan tersebut, BPBD telah menyiapkan seluruh armada berupa mobil tangki guna menyuplai air bersih sesuai dengan kebutuhan.  

Diharapkan, kepala desa (kades) yang daerahnya mengalami air kering untuk selalu proaktif bekomunikasi dengan BPBD dan mengajukan surat permintaan air bersih secara resmi. Nanti BPBD akan menindaklanjuti kebenaran informasi tersebut untuk memastikan benar-benar tidak ada sumber air untuk secepatnya dilakukan droping air bersih. Sebab, ada kemungkinan di wilayah itu masih ada air, tapi kondisinya agak jauh sehingga warga malas untuk mengambilnya.

“Ini kami lakukan agar droping air merata di daerah yang membutuhkan. Untuk droping ini kami turunkan tiga armada dengan kapasitas 15 ribu liter. Nantinya, jumlah itu akan ditambah jika dirasa kurang,” jelas Putut.

Sementara itu, Koran ini tidak berhasil menemui Kades Bogoran Ihsanudin yang saat ini masih mengajukan permintaan air bersih, guna mengonfirmasi. Selain itu, nomor telepon bersangkutan juga tidak aktif ketika dihubungi. (jaz/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia