alexametrics
Senin, 01 Jun 2020
radartulungagung
Home > Features
icon featured
Features

M. Dhanu Teja Panyimurti, Pecinta Ikan Hias yang Tekuni Paludarium

16 Juli 2018, 13: 45: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENARIK: Dhanu ketika membersihkan debu, sekaligus memupuk tanaman pada paludarium.

MENARIK: Dhanu ketika membersihkan debu, sekaligus memupuk tanaman pada paludarium. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Ikan hias akan terlihat lebih cantik apabila ditempatkan pada akuarium dengan berbagai hiasan agar lebih menarik. Inilah yang ada dibenak M. Dhanu Teja Panyimurti. Berkat kesukaannya pada ikan bermotif cantik, dirinya terus berinovasi hingga berhasil menekuni pembuatan paludarium.

ZAKI JAZAI

Di pagi yang cerah itu, saat Jawa Pos Radar Trenggalek berjalan memasuki sebuah gang masuk Desa/Kecamatan Pogalan kemarin (15/7), arus lalu lintas di sekitar sedikit ramai. Bersamaan itu, di teras salah satu rumah warga desa tersebut, ada sebuah pemandangan menarik. Yakni terdapat beberapa akuarium yang berisikan beraneka ragam ikan hias.

Kali ini, bukan sekadar akuarium seperti pada umumnya. Namun mayoritas di dalam akuarium itu terdapat hiasan berbagai jenis tanaman hias yang biasa hidup di daratan. Sehingga hanya sebagian kecil saja terdapat tanaman airnya. Tak jauh dari situ, terlihat seorang laki-laki sedang sibuk membersihkan kaca akuarium dari luar.

”Ini bukan sembarang akuarium, melainkan paludarium,” ungkap M. Dhanu Teja Panyimurti, pemilik sekaligus perajin paludarium.

Kenapa dikatakan paludarium? Sebab, bak kaca bening tersebut didominasi tanaman hias dari darat dan bukan dari pada tanaman air saja. Sehingga dengan hiasan tambahan seperti bebatuan, lampu hias, dan ditambah lagi warna-warni ikan hias, kondisi paludarium akan lebih terlihat menarik.

“Sejak masih muda, saya suka ikan hias. Karena kesukaan itu, saya mencari tahu untuk membuat tempat agar terlihat lebih menarik lagi,” katanya.

Karena keinginannya tersebut, sekitar satu setengah tahun lalu, pria yang akrab disapa Dhanu ini mencari tahu jenis atau teknik menata hiasan air dalam akuarium. Dari situlah, dirinya menemukan aquascape atau seni mengatur tanaman, air, batu, karang, kayu, dan lain sebagainya dalam bak kaca akuarium. Karena merasa cocok, dirinya langsung mempelajarinya hingga mahir.

Dalam proses pembelajaran itu, dirinya mencari petunjuk melalui internet. Selain itu, dirinya juga mencari tahu siapa yang lebih dahulu menekuni aquascape di wilayah Trenggalek. Setelah tahu, dirinya langsung berguru kepadanya tentang bagaimana cara membuat hingga berhasil menguasai.

Namun seiring berjalannya waktu, sekitar satu tahun berjalan ini, dirinya ingin berinovasi kembali terkait teknik untuk mengatur berbagai jenis hiasan tersebut dalam bak akuarium. Dari situlah, dirinya menemukan teknik lainnya yang disebut paludarium dan langsung tertarik untuk mempelajari. Alasannya, perawatannya lebih mudah dari pada aquascape.

“Berbeda dengan aquascape yang memerlukan injeksi gas karbondioksida (CO2) agar tanaman airnya bisa hidup, paludarium ini menitikberatkan pada tanaman darat. Hal itu tidak perlu dilakukan sehingga perawatannya lebih mudah dan murah,” imbuh pria 36 tahun ini.

Dalam proses pembuatannya, hanya diperlukan ketelatenan dalam menyusun berbagai jenis bebatuan dan hiasan lainnya seperti pasir atau silica untuk hiasan dasar dan sebagainya. Selain itu, juga diperlukan kecermatan dalam pemilihan tanaman untuk hiasan. Yaitu akar tanaman darat yang terbiasa atau kuat terus-terusan terendam air, juga tanaman air yang tidak terlalu banyak membutuhkan CO2.

“Agar ikan di dalamnya bisa terlihat jelas, daun segala jenis tanaman itu harus berukuran kecil,” tuturnya.

Ikan yang nantinya ditempatkan dalam paludarium merupakan jenis ikan hias bertubuh kecil. Sebab, tubuh ikan nantinya disesuaikan dengan volume paludarium. Selain itu, agar proses pembersihan lebih mudah, akan lebih baik jika dikasih keong tanduk dengan ukuran kecil yang berfungsi memakan lumut yang menempel pada kaca.

“Makanan ikan tidak perlu repot karena pupuk organik tanaman yang bercampur air bisa menghasilkan zooplankton,” ujar bapak dua anak ini.

Sehingga setiap hari pemilik tidak perlu lagi untuk memberi makanan ikan. Sedangkan proses perawatan cukup dengan membersihan bagian depan kaca dari debu dan mengganti airnya setiap satu minggu sekali.

“Dengan mudahnya perawatan, banyak yang menyukainya. Karena saya kerap sekali diundang masyarakat hingga luar daerah untuk membuat paludarium,” jelasnya. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia