Senin, 24 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Komunitas Rumah Seni Ringinpitu Bisa Sulap Barang Bekas Jadi Patung

Kamis, 19 Jul 2018 12:45 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN: Feri Bagus Cahyono dengan teman-teman perajin saat menunjukkan hasil karyanya dari barang bekas, kemarin (18/7).

TELATEN: Feri Bagus Cahyono dengan teman-teman perajin saat menunjukkan hasil karyanya dari barang bekas, kemarin (18/7). (AGUS DWIYONO/RATU)

Bagi anggota komunitas Rumah Seni di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, barang bekas dapat disulap menjadi sebuah karya menarik dan bernilai ekonomi.

AGUS DWIYONO

Tek mudah menemukan markas komunitas Rumah Seni, di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru. Lantaran berada sekitar 300 meter dari jalan utama. Bahkan untuk sampai di rumah tersebut, perlu melintasi beberapa gang paving yang hanya bisa untuk kendaraan roda dua.

Tiba ditempat tersebut, tampak beberapapatung sudah jadi sedang dalam proses penyelesaian maupun baru dimulai perakitan. Di samping patung, sejumlah peralatan termasuk bambu dan lem, berserakan di sekeliling itu.

Tak disangka, jika melihat lebih detail, patung tersebut terbuat dari bahan-bahan bekas. Semisal kertas, kardus semen, dan lem dari ketela yang diolah.

Salah seorang perajin, Supri mengaku, pembuatan patung butuh ketelatenan. Sebab, penyelesaian patung bisa sampai satu bulan. Padahal, patung itu dikerjakan setiap hari dengan empat perajin.

“Tidak membutuhkan keahlian khusus. Jika mau belajar, bisa praktik langsung,” ungkap pria berusia 33 tahun tersebut kemarin (28/7).

Dia mengaku, proses pembuatan patung dibagi menjadi dua waktu, yakni antara siang dan malam hari. Karena setiap perajin memiliki kesibukan tersendiri, termasuk ada yang kerja atau sekolah.

“Saya dan Feri pagi mengerjakan. Feri masih SMP. Malam hari Mas Uud sama Mas Sugeng, gimana lagi, memiliki kesibukan masing-masing,” ungkapnya.

Perajinlainnya,FeriBagus Cahyono mengaku,dalam pembuatan patung itumemerlukanbeberapa tahap. Yaknimembuat kerangka terlebih dahulu dengan bahan kayu, bambu yang telah dipotong dan disayat tipis-tipis, paku, serta kawat. Lantas dibuat kerangkasesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

“Semua barang milik sendiri dan kami manfaatkan kembali. Paku atau kawat tetap beli,” ujarnya.

Untuk membuat kerangka dibutuhkan waktu tiga sampai empat hari. Bisa lebih lama, dengan catatan melihat tingkat   kerumitan.

Setelah kerangka selesai dirakit dan sudah dipastikan kuat dalam segala bidang. Misalkan jatuh sewaktu-waktu atau kuat dengan menahan beban berat, lantas proses pemberian baju. Caranya dengan menggunakan bungkus semen dikaitkan pakai lem. “Usai dirakit untuk proses selanjutnya, diserahkan ke Mas Uud dan Mas Sugeng,” ujarnya.

Samsul Arifin atau Uud mengaku, dalam proses mengaitkan bungkus semen dengan kerangka, butuh waktu beberapa hari. Sebab, harus telaten mengaitkan antara satu dengan yang lain. Jika pengaitan dianggap selesai, proses selanjutnya penjemuran di bawah terik matahari.

“Dikaitkan dengan menggunakan lem, tidak hanya satu kali, tapi beberapa kali. Bertujuan lebih kuat dan awet,” ungkapnya.

Nah, pembuatan terlama patung tersebut  pada saat menempelkan kertas yang sudah dipola ke seluruh bagian patung. Dengan membentuk pola di setiap bagian seperti tangan, kaki, wajah, serta aksesori lainnya.

“Proses paling akhir dengan cara menempelkan kertas yang sudah dihancurkan dengan air,” ujarnya.

Menurut dia, dalam menempelkan kertas hingga proses pengeringan, butuh waktu dua minggu. Jika cuaca tidak bersahabat, bisa lebih lama. “Ketika panas tidak ada, kami malah repot,” jelasnya.

Hingga saat ini, dirinya bersama teman-teman komunitas Rumah Seni sudah menyelesaikan dua bentuk pantung. Pertama, Recho Pentung sudah 100 persen jadi dan kedua Putri Panji masih 65 persen menuju penyelesaian. “Untuk persiapan 17 Agustus mendatang,” jelasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia