Senin, 09 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Tren Kasus HIV/AIDS Terus Naik

19 Juli 2018, 14: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS PENEMUAN ODHA DI TULUNGAGUNG

GRAFIS PENEMUAN ODHA DI TULUNGAGUNG (HENDRA NOVIAS/RATU)

TULUNGAGUNG – Jumlah penderita human immunodeficiency virus/acquired immuno deficiency syndrome (HIV/AIDS) di Kota Marmer ini tiap tahun mengalami tren kenaikan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dari tahun 2006 hingga Mei 2018, total ada 2.066 kasus.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka mengatakan, kasus orang dengan  HIV/AIDS atau ODHA di kabupaten ini tergolong tinggi.

Jumlah kasus HIV/AIDS meningkat karena beberapa penderita tidak ditemukan tahun-tahun lalu dan baru ditemukan sekarang. Dengan temuan-temuan itu, memudahkan petugas kesehatan melakukan pemantauan untuk menjaga kualitas hidup ODHA.         

HIV, lanjut dia, merupakan sebuah virus menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

Apalagi, HIV/AIDS belum ditemukan obatnya. Namun, untuk menekan angka ODHA agar tidak meningkat dan agar ODHA tetap dapat survive, dinkes melakukan berbagai upaya perhatian khusus. Semisal pemberian obat antiretroviral (ARV),program perawatan dukungan dan pengobatan (PDP),dan menyediakan fasilitas tes HIV di puskesmas dan rumah sakit,serta melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, kini terdapat tiga puskesmas dan satu rumah sakit swasta di kabupaten ini yang dapat melayani pengobatan dan konseling bagi penderita HIV/AIDS. Antara lain seperti Puskesmas Ngunut, Puskesmas Ngantru, Puskesmas Kalidawir, serta Rumah Sakit Islam.

“Sebagai upaya penekanan penderita HIV/AIDS, kami bekerja sama dengan tiga puskesmas dan satu rumah sakit swasta untuk dapat melakukan pengobatan,” ujarnya.

Dia menambahkan, jumlah ODHA tertinggi berada pada usia 25 hingga 49 tahun, yakni sebesar 1.499 penderita. Sedangkan jumlah ODHA berdasarkan gender, sebanyak 55 persen adalah laki-laki dan 45 persen adalah perempuan.

“Kami secara berkala melakukan pengecekan ke tempat-tempat seperti eks lokalisasi dan kafe,” ujar pria ramah ini.

Sementara itu, RSUD dr Iskak, setiap bulan rata-rata menemukan kurang lebih 24 kasus penderita yang positif penyakit ini.

“Penularan virus HIV/AIDS masih didominasi akibat hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual,” terang Penanggung Jawab Poli Visite RSUD dr Iskak Ina Imawati.

Dia membeberkan, mulai dari 2006 hingga Juli 2018, tercatat sekitar 359 penderita HIV/AIDS meninggal.

“Salah satu faktor yang mengakibatkan pasien HIV/AIDS meninggal adalah faktor penyakit penyerta seperti TBC dan jamur otak,” ujar wanita berhijab ini.  (c2/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia