Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Masyarakat Trenggalek Ternak Burung Murai Tandai Dengan Beri Cincin

Sabtu, 21 Jul 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

UNGGULAN: Jefry menggantung burung Murai Batu Medan di halaman tokonya kemarin (19/7).

UNGGULAN: Jefry menggantung burung Murai Batu Medan di halaman tokonya kemarin (19/7). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Murai Batu Medan digandurungi kalangan pecinta burung. Harganya pun tergolong mahal. Di balik pundi-pundi rupiah yang menjanjikan itu, ada risiko saat proses penangkaran. Salah satunya cuaca dingin seperti sekarang ini. Berikut penuturan Jefri Kristiawan.

AGUS MUHAIMIN

“Kalau cuaca dingin relatif sulit untuk penangkaran,” kata Jefri Kristiawan kepada Koran ini. Bermula dari sepasang indukan, kini warga Kelurahan Sumbergedong ini memiliki 12 indukan. Poligami. Ya, tiap seekor pejantan memiliki dua betina di dalam kadangnya.

Biasanya untuk mempertahankan suhu agara tetap hangat, penangkar burung ini menggunakan lampu. Dayanya disesuaikan agar suhu kandang tidak terlalu panas. Perlakuannya juga hampir sama dengan manusia, burung berekor panjang tersebut diberi makan tiga kali sehari.

Selain pelet, jangkrik maupun cacing menjadi suplemen atau makanan tambahan. “Intinya jangan sampai telat ngasih makanan, makanya dikasih pelet, antisipasi kalau kelupaan,” imbuhnya. Perlakuan itu untuk burung dewasa atau indukan, tidak untuk anakan. Penangkar harus konsisten menyuapinya saat jam makan.

Jefri biasanya memindahkan anakan dari induknya tujuh hari setelah menetas. Itu pun dilakukan menjelang petang.  Karakter indukan burung ini berbeda-beda. Ada kalanya sangat sensitif dengan orang baru, tapi ada juga yang tidak. Kebetulan, semua indukannya cukup mudah ditangkar. Selain mudah sekali bertelur, burung tersebut juga tidak gampang stres jika melihat orang lain. “Ada milik teman saya itu, kalau dilihat orang lain, anakannya langsung dibuang,” katanya.

Sekitar 35 hari lamanya, Jefry harus telaten menyuapi anakan burung tersebut sebelum akhirnya dijual. Ya, pada usia 1,5 sampai 2 bulan, burung tersebut sudah bisa dijual. Harga anakan miliknya memang relatif mahal untuk pasar di Kota Keripik Tempe. Yakni di atas Rp 3 juta per pejantan muda. Namun, mahalnya harga itu sebanding dengan kualitas burung yang dibawa oleh pelanggannya. “Buktinya, tidak pernah ada seorang pun pelanggan yang komplain,” begitu pengakuan Jefry.

Jefry juga mengaku, 12 indukannya itu masih sangat kurang memenuhi permintaan pelanggannya. Meski saat ini masih dalam proses pengeraman, itu sudah ada pemiliknya. Rata-rata yang memesan burung tangkarannya tersebut dari Jakarta dan Surabaya. Bahkan, ada pula yang dari luar pulau, tapi dia masih bingung untuk proses pengirimannya.

Selama ini, Jefry lebih sering memanfaatkan jasa ekspedisi. Meskipun tak jarang juga pelanggannya datang ke Trenggalek untuk mengambil barang pesanan. Per kandang, untuk Jakarta atau Surabaya dia harus membayar jasa pengiriman sekitar Rp 100 ribu. “Saya kirim foto dan video burung agar tidak tertukar saat di pengiriman,” katanya.

Kendati kini relatif lebih aman, menurut dia, burung yang dikirim tersebut rawan tertukar. Untuk itu, selain wajib memberikan tanda atau cincin penangkar, dia menyertakan video kepeda pelanggan. Berikut saat dia menyerahkan barang tersebut kepada pihak ekspedisi. Tujuannya tidak lain agar burungnya itu sampai kepada penerima sesuai dengan pesanan.

Menurut dia, pernah terjadi peristiwa yang tak diinginkan saat pengiriman burung kicau. Entah itu karena disengaja atau tidak, yang jelas burung yang dikirim ternyata berbeda dengan diterima. Hal ini dialami oleh rekannya. Akhirnya, terjadi perselisihan antara pengirim dengan ekspedisi. Karena penerima komplain dengan barang pesanannya. “Kalau sekarang sudah lumayan aman sih, tapi ya tetap waspada,” akunya. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia