Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Efriliya Herlina,Petenis Trenggalek Dapat Beasiswa Universitas Alabama

Kamis, 26 Jul 2018 16:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

AHLI: Efriliya Herlina saat ditemui di lokasi tempat dia menjalankan internship di dinas pendidikan pemuda dan olahraga, kemarin (25/7).

AHLI: Efriliya Herlina saat ditemui di lokasi tempat dia menjalankan internship di dinas pendidikan pemuda dan olahraga, kemarin (25/7). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Kiranya tak banyak yang tahu jika Kota Keripik Tempe memiliki petenis unggul, Efriliya Herlina. Maklum, sedari kecil dia menempuh pendidikan di luar daerah, bahkan hingga luar negeri. Kini, dia kembali ke daerah asal untuk tugas akhir kuliah.

AGUS MUHAIMIN

Kompleks Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Trenggalek terlihat seperti biasa. Lapangan parkir yang luas itu penuh terisi aneka jenis kendaraan, baik itu yang roda dua maupun roda empat. Begitu juga di dalam gedung. Tampak, hilir mudik pagawai menenteng map atau pun tas, sibuk menyelesaikan tugasnya masing-masing.

“Halo,” kata itu diucapkan seorang perempuan muda. Bertubuh tinggi, mengenakan kostum berbeda dari pegawai yang ada di dinas tersebut.

Ya, dia adalah Efriliya Herlina. Salah seorang pemain tenis lapangan terbaik yang dimiliki negara ini. Namanya tidak hanya tersohor di kalangan petenis nasional, bahkan dia juga sangat diperhitungkan di tingkat internasional. 

Warga Kelurahan Sumbergedong ini memang sulit ditemukan di daerahnya. Itu karena sejak kelas 1 SMP sudah pindah ke Jawa Barat untuk melanjutkan pendidikan dan mengasah skill-nya di lapangan tenis.

“Dulu waktu masih awal, bolak-balik Trenggalek-Bogor,” akunya kepada Koran ini kemarin (25/7). Namun, lambat laun dirasa hal itu tidak efektif. Sehingga dia pun pindah sekolah di Kota Hujan tersebut.

Putri pasangan Gatot Harmono dan Lilik Suharyati ini menceritakan kepiawaiannya bermain tenis bermula dari kebiasaan diajak almarhum kakaknya saat usia masih 5 tahun. Karena saking seringnya latihan tenis, Efriliya kecil kian tertarik dengan raket. Hingga pada usia 10 tahun, dia memberanikan diri izin kepada orang tuanya untuk menekuni olahraga tersebut.

Bak gayung bersambut, sang orang tua pun menyetujui keputusan tersebut. Mengingat untuk kompetisi di lokal Trenggalek, dia terlihat menonjol dan seringkali keluar sebagai juara.

“Tidak langsung ke Jawa Barat, awalnya main di antar provinsi dulu, sampai akhirnya ketemu dengan salah seorang pelatih bagus dan belajar di sana,” kenangnya.

Pada usia 14 tahun, namanya kian mentereng saat dia menjadi salah satu peserta di tingkat Asia untuk turnamen tenis lapangan. Kendati tidak menjadi juara, dia memiliki poin yang cukup tinggi karena masuk dalam semifinal. Prestasi demi prestasi telah diraihnya, dia pun berhasil menasbihkan diri menjadi salah satu pemain tenis nasional.

Puncaknya, dia mendapatkan beasiswa pendidikan di Alabama. Dia kuliah di Troy University di jurusan Sport Managemen and Hospitality.

“Ini pulang karena internship atau kuliah kerja nyata (KKN),” ujarnya.

Sudah tiga minggu lamanya dia menjalani kuliah lapangan di disdikpora ini. Trenggalek menjadi tujuan, tidak hanya kangen dengan dekat orang tua, tapi lebih jauh dia telah mendengar banyak perkembangan yang dialami oleh Trenggalek. Telah ada beberapa atlet nasional yang berhasil mengibarkan bendera negara di kancah internasional.

Untuk itu, dia pun tertarik untuk terjun langsung mengujungi daerah asalnya dengan misi internship tersebut.

Beruntung, keinginannya itu cukup mulus berkat komunikasi dan koordinasi yang lancar dengan sejumlah pihak. Baik itu dari universitas tempat dia menimba ilmu, maupun dari pihak pemerintah, dalam hal ini dinas yang tidak terlalu ribet dan terbuka sebagai tempat dia menggali maupun menerjemahkan ilmu.

“Untungnya kampus enak. Di sini juga tidak ribet dengan syarat-syarat yang sulit,” ungkapnya.

Selama beberapa minggu ini, dia mengaku mendapatkan banyak pengalaman. Terutama dalam dalam hal pemerintahan. Jika dulunya dia sering mengeluhkan lambannya pemerintah memfasilitasi para atlet olahraga, kini dia merasakan sendiri betapa sulit dan ribetnya proses untuk mewujudkan hal tersebut.

“Ini beberapa hari masih belajar soal administrasinya saja, belum soal anggaran sama pelaksanaannya,” katanya lantas tertawa.

Meski begitu, menurutnya ada beberapa hal yang kadang perlu menjadi perhatian atau prioritas pemerintah. Misalnya saja, untuk olahraga atletik yang kini sudah membuahkan hasil positif. Hal itu perlu untuk mempupuk semangat atlet maupun bibit-bibit baru dalam olahraga tersebut.

“Rencana setelah lulus, nanti masih sekolah lagi. Sudah telanjur eman kalau tidak dilanjutkan sampai jenjang berikutnya,” ujarnya saat ditanya rencana pascalulus dari Troy University.(ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia