Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Atlet Wushu TITD Tjoe Tik Kiong Meraih 8 Emas Kejurprov

Sabtu, 28 Jul 2018 11:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

LINCAH: Atlet wushu TITD Tjoe Tik Kiong bersama pelatih dan pembina.

LINCAH: Atlet wushu TITD Tjoe Tik Kiong bersama pelatih dan pembina. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Kerja keras memang tidak mengkhianati hasil. Hal itu ditunjukkan delapan atlet wushu Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tjoe Tik Kiong. Meskipun klub itu belum lama berdiri, nyatanya mereka bisa meraih prestasi membanggakan hingga tingkat provinsi. Yakni meraup delapan emas di kejurprov.

DHARAKA R. PERDANA

Suasana pada Rabu (25/7) sore di gedung serba guna TITD terlihat cukup ramai. Selain ada ibu-ibu yang sedang senam aerobik, di sisi lain tampak sekumpulan anak kecil yang sedang asyik bersenda gurau. Meskipun di antara mereka membawa golok, jangan anggap mereka hendak menebang kayu. Ternyata mereka sedang mempersiapkan diri untuk latihan rutin yang digelar seminggu tiga kali.

Begitu mengetahui kedatangan Koran ini, mereka langsung beringsut menuju teras depan. Di sana, mereka menceritakan pengalamannya selama bertanding di Surabaya. Selain membawa nama klub, mereka juga bertanding untuk turut membawa nama Tulungagung di kancah lebih tinggi.

Juru bicara tim Marchelina Eka Putri mengatakan, sejak sebelum keberangkatan, seluruh atlet memang mempersiapkan segala hal semaksimal mungkin. Selain meningkatkan intensitas latihan dengan berlatih sendiri di rumah, asupan gizi pun selalu diperhatikan.

“Latihan semakin intensif menjelang kompetisi. Karena kami tidak ingin bermain-main,” katanya.

Warga Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, ini menambahkan, pola latihan dikhususkan pada nomor wushu yang dikuasai. Jika tangan kosong, harus intens di situ. Begitu pun yang bertanding di nomor golok maupun pedang juga harus melakukan yang sama.

“Selama latihan pun kami selalu bersungguh-sungguh. Dan selama pertandingan tidak pernah meremehkan lawan,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Cantika Gusnia Dewanti, si peraih tiga emas. Dia mengaku tidak merasa grogi selama kompetisi berlangsung. Itu meskipun lawan tandingnya terhitung kenal baik karena sering bertemu di berbagai event pertandingan.

“Grogi sih tidak. Lagian sering ketemu di beberapa kali kejuaraan,” ungkapnya.

Sedangkan Nirmaya Cheisya Dewi yang menyabet dua emas mengaku, pola makan menjelang pertandingan memang tidak bisa sembarangan. Sebab, sedikit saja ada kesalahan, tentu berpengaruh pada performa di lapangan.

“Tidak boleh minum es sebelum pertandingan,” ujarnya lantas tertawa.

Obrolan pun berlangsung seru. Saat ditanya apakah punya cita-cita menjadi atlet nasional, salah satu bocah cilik yang bernama Iffat Bryan Al Baihaqi nyeletuk ingin menjadi tentara. Semua pun lantas tertawa.

Sementara itu, Robin Kaligis, pembina klub wushu TITD Tjoe Tik Kiong mengatakan, tahun ini bisa dikatakan masa panen medali emas setelah sekian lama berjuang. Apalagi, untuk membina atlet wushu memang bukan perkara mudah. Butuh waktu hingga empat tahun untuk mendapatkan prestasi membanggakan ini.

“Ada satu lagi yang mendapat emas, yakni Khalila Risdha Aufa Soendoro. Bagi kami, prestasi mereka sangat membanggakan,” tuturnya lantas tersenyum.

Koh Robin–sapaan akrabnya-menambahkan, pada awal klub itu berdiri, dirinya sering merasa gemas karena tak kunjung mendapat medali emas. Sehingga begitu mendapat delapan emas pada kejurprov beberapa waktu lalu, itu menjadi momentum untuk meraih prestasi yang lebih baik di event selanjutnya.

“Kami tidak menutup diri jika ada dari luar kota yang ikut berlatih di sini. Karena kami ingin mereka bisa menjadi atlet terbaik hingga tingkat internasional,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia