Sabtu, 22 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Kekerasan Anak Meningkat

Sabtu, 28 Jul 2018 14:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS KEKERASAN ANAK

GRAFIS KEKERASAN ANAK (Hendra Novias/RATU)

TULUNGAGUNG – Kasus yang melibatkan anak-anak di Kota Marmer kian meningkat. Unit Layanan Terpadu (ULT) Perlindungan Sosial Anak Integratif (PSAI) Tulungagung mencatat sepanjang tahun 2017 ada 251 kasus. Padahal jika dibandingkan tahun 2016, hanya 114 kasus.

Sedangkan pada tahun 2018 hingga pertengahan Juli, ada 74 kasus.

“Salah satu kasus yang melibatkan anak-anak yakni kekerasan seksual. Kasus ini terus menjadi perhatian pemerintah, lantaran anak-anak menjadi korban kekerasan seksual dapat mengalami trauma,” ungkap Koordinator Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung Sunarto Agung Laksono kemarin (27/7).

Mudahnya akses internet dan bertebaran situs pornografi menjadi salah satu faktor merebaknya kasus kekerasan seksual.

“Jumlah kasus kekerasan di lapangan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan data yang diterima oleh ULT-PSAI,” tandasnya.

Dia mengaku, kasus kekerasan pada anak ibarat fenomena gunung es. Hanya sedikit nampak, tapi sebenarnya masih banyak kasus tersembunyi. Itu disebabkan korban masih takut melapor karena dianggap aib.

“Kasus kekerasan sebenarnya di lapangan masih lebih tinggi dibandingkan data kami. Karena masih ada rasa takut untuk melapor,” terangnya.

Dari data ULT-PSAI Tulungagung, kasus kekerasan seksual tahun 2016 ada sekitar 15 kasus, sedangkan tahun 2017 sekitar 13 kasus, dan tahun 2018 tercatat delapan kasus.

Selain kasus kekerasan seksual, kasus pengasuhan anak tergolong tinggi. Jumlah kasus pengasuhan pada anak terus meningkat dari tahun ke tahun. ULT-PSAI mencatat, tahun 2016 terjadi kasus pengasuhan ada 16 kasus, tahun 2017 jumlahnya meningkat menjadi 19 kasus, dan tahun 2018 tercatat 29 kasus. Faktor ekonomi masih mendominasi penyebab kasus pengasuhan pada anak.

Dia menjelaskan, kasus pengasuhan disebabkan anak-anak menjadi korban perceraian (broken home) dan perebutan hak asuh anak. Tentu disesalkan sikap orang tua bercerai karena akan berdampak pada psikologis anak.

Sementara itu, kasus anak-anak kesulitan dalam memperoleh akta kelahiran masih tinggi. Sulitnya pencatatan akta kelahiran ini karena berbagai faktor. Seperti anak yang tidak diketahui keberadaan orang tuanya dan anak lahir dari pernikahan tidak sah. Kasus adminduk paling besar terjadi tahun 2017, yakni sebesar 87 kasus.

Dia mengimbau, masyarakat tidak ragu melaporkan kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak. Masyarakat dapat melakukan pengaduan. Semakin banyaknya laporan, maka upaya penyelesaian kasus tambah mudah. “Jangan ragu melapor. Karena semakin banyak laporan yang kami terima, tentu akan memudahkan kami dalam penanganan,” tandasnya. (c2/ed/din)      

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia