Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Usaha Dedy Firmansyah Berdayakan Warga Kembangan lewat Joglo Knockdown

Jumat, 03 Aug 2018 16:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERMANFAAT: Sejumlah warga tengah menyusun Joglo bongkar pasang di Desa Kembangan, Kecamatan Pule.

BERMANFAAT: Sejumlah warga tengah menyusun Joglo bongkar pasang di Desa Kembangan, Kecamatan Pule. (DEDY FOR RADAR TRENGGALEK)

Bermanfaat bagi orang lain menjadi sebuah kebahagian, begitu juga dengan Dedy Firmansyah. Warga Desa Kembangan, Kecamatan Pule, ini memberikan skill tambahan bagi warga sekitarnya untuk membuat rumah kayu bernilai ekonomi tinggi. Sayang, karena medan perbukitan, kegiatan itu butuh tambahan modal.

AGUS MUHAIMIN

Malam itu, suasana Kota Keripik Tempe cukup dingin. Di salah satu pojok warung, terlihat seorang pria terlihat lesu. Usut punya usut, dia ketinggalan bus menuju ke Surabaya, padahal harus segera mungkin sampai di kota Pahlawan itu.

Dedy Firmansyah

Dedy Firmansyah (DEDY FOR RADAR TRENGGALEK)

“Adanya nanti setelah jam 01.00,” ucapnya tampak kesal.

Pria bertubuh tinggi besar ini adalah Dedy Firmansyah. Di tangannya terdapat harapan belasan warga Desa Kembangan, Kecamatan Pule, yang menantikan kegiatan untuk tambahan penghasilan, lewat bangunan bongkar pasang (knockdown).

Kepada Koran ini, dia mengaku mulai menekuni pembuatan bangunan knockdown alias bongkar pasang beberapa tahun terakhir. Seringkali dia mendapatkan permintaan bangunan itu untuk hunian di daerah wisata, semisal Bali. Proses produksinya pun dilakukan di lokasi pemesan.

Namun sejak 2017 lalu, dia mulai berpikir proses pengerjaannya dilakukan di tempat tinggalnya, Desa Kembangan. Di sini dia mulai melibatkan warga sekitar untuk memproduksi bangunan bongkar pasang tersebut.

“Itu kan bangunan yang selama ini jarang ditemukan, jadi saya harus mengajari mereka pelan-pelan,” akunya.

Beruntung, proses transfer skill tidak membutuhkan waktu lama. Karena masyarakat wilayah Trenggalek ini sangat akrab dengan dunia pertukangan. Proses itu membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

“Mulai dari cara menghaluskan kayu hingga menyusun bangunan bongkar pasang ini. Yang paling sulit itu baca gambar,” katanya.

Maklum, selama ini warga setempat hanya berprofesi sebagai tukang atau buruh kasar yang notabene tidak begitu mengenal desain sebuah bangunan. Material yang digunakan Dedi adalah kayu-kayu keras. Seperti Benggiran, Meranti, Tempas, Merbabu, dan Ulin. Kayu-kayu itu memang jarang ditemukan di lokal Trenggalek.

Dia biasanya memesan dari luar daerah. Sayang, akses menuju lokasi produksi, Desa Kembangan, Kecamatan Pule, ini cukup sulit. Di sisi lain, jenis kayu yang digunakan untuk membuat bangunan ini tergolong berat.

“Kalau lokasinya datar, satu truk itu bisa bawa kayu tujuh kubik, tapi karena jalan menanjak tidak kuat. Hanya sekitar lima kubik,” katanya.

Setelah proses produksi rampung, biasanya Dedi juga mengajak belasan warga yang membuat tersebut ke lokasi pemesan. Itu untuk memasang konstruksi bangunan kayu tersebut.

“Yang sering itu ke Bali. Di sana bangunan itu untuk villa-villa persewaan,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, bangunan karya tangan warga Kecamatan Pule ini diminati turis mancanegara. Terakhir, dia menerima pesanan untuk membuat bangunan itu dari luar negeri. Proses pengirimannya memang mahal, tapi nilai jualnya juga lumayan cukup.

“Ini ada pesanan beberapa unit dari Australia. Syukur rumah tradisional kita ternyata banyak diminati,” katanya. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia