Sabtu, 22 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Jenazah TKI Disambut Isak Tangis Keluarga

Senin, 13 Aug 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TAK ADA KENDALA: Korban serangan gajah liar di Gabon, Afrika Barat, Munangim, 48, warga Desa/Kecamatan Ngantru, langsung dimakamkan setelah tiba di rumah kemarin (12/8).

TAK ADA KENDALA: Korban serangan gajah liar di Gabon, Afrika Barat, Munangim, 48, warga Desa/Kecamatan Ngantru, langsung dimakamkan setelah tiba di rumah kemarin (12/8). (AGUS DWIYONO/RATU)

TULUNGAGUNG - Jenazah Munangim, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dikabarkan meninggal pada Senin (6/8) lalu akibat serangan gajah liar di Gabon, Afrika Barat, akhirnya tiba di rumah duka Desa/Kecamatan Ngantru, pukul 02.00, Minggu (12/8) kemarin.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tulungagung di lokasi rumah tersebut, kedatangan jenazah disambut isak tangis keluarga dan kerabatnya yang sudah menunggu sejak sore.

Selain itu, tetangga sekitar dan beberapa teman korban semenjak di pondok pesantren (ponpes) juga menunggu kedatangan di sekitar rumah duka.

Proses pemulangan jenazah dari Surabaya ke Tulungagung memakai ambulansdan satumobil pribadi. Takmenunggu lama,saat ambulans tiba di halamanrumah, jenazah yang sudah berada di peti putih langsung dimasukkan kedalam rumah.

“Jenazah tiba, tak lama kemudian dimasukkan ke dalam rumah dan dilihat untuk memastikan sudah sesuai dengan syariat atau tidak sebelum proses pemakaman,” ungkap salah satu tetangga korban yang juga masih saudara, Rokhim.

Setelah proses pengecekan di rumah duka dari pihak keluarga dan petugas desa selesai, jenazah dibawa ke musala terdekat. Guna dilakukan salat jenazah oleh kerabat, warga sekitar, dan teman korban sewaktu di ponpes dulu.

Menurut dia, pihak penyalur tenaga kerja tergolong bertanggung jawab. Sebab, selain proses pemulangan jenazah tidak mengeluarkan uang sama sekali, mobil ambulans dan lain sebagainya sudah difasilitasi.

“Hanya menunggu di rumah saja. Setelah sampai di Juanda Surabaya, pihak penyalur tenaga kerja langsung memberi kabar pihak keluarga dan jenazah dibawa ambulans dari pihak perusahaan,” ungkapnya.

Warga sekitar, Kusnanto mengaku, sebelum jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 02.00, ada pihak kepolisian dan perangkat desa yang menunggu sejak sore.

“Ada banyak versi. Ada yang bilang pukul 10.00 datang, eh ternyata pukul 02.00 baru datang,” ungkapnya saat ditemui setelah pemakaman.

Dia menambahkan, selain alumni dari ponpes, korban dikenal baik di lingkungan sekitar. Bahkan sebelum berangkat kerja sekitar satu tahun lalu, korban juga pernah menjadi pengurus di salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Sakadar mengingatkan, luka mendalam masih dirasakan keluarga TKI asal Desa/Kecamatan Ngantru, Munangim. Pria 48 tahun tersebut dikabarkan tewas pada Senin (6/8) lalu saat bekerja di perkebunan kelapa sawit di Gabon, Afrika Barat.

Sontak, berita duka itu membuat sejumlah kerabat dan tetangga Munangim berdatangan ke rumah. Mereka tak mengira jika bapak tiga anak itu cepat meninggalkan keluarga selamanya.

Dari informasi diterima pihak keluarga, Munangim tewas diserang gajah liar mengamuk di area perkebunan sawit negara tersebut.

“Bapak mulai menjadi TKI di Gabon, Afrika Barat, sejak setahun lalu, yakni di tempat perkebunan sawit. Kami sering komunikasi lewat telepon atau video call saat bapak istirahat,” jelas anak pertama korban, Saifurohman kemarin (7/8). (yon/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia