Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Munangim, TKI yang Meninggal di Gabon Tinggalkan Tiga Anak

Senin, 13 Aug 2018 14:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERDUKA: Kakak kandung korban, Iswarin, menunjukkan foto Munangim saat masih hidup.

BERDUKA: Kakak kandung korban, Iswarin, menunjukkan foto Munangim saat masih hidup. (AGUS DWIYONO/ RATU)

Siapa sangka, Munangim, warga Desa/Kecamatan Ngantru, meski baru setahun bekerja menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Gabon, ajal sudah menjemput. Dia meninggal akibat diserang gajah.

AGUS DWIYONO

Tidak mudah mencari rumah Munangim, TKI yang meninggal di Gabon, Afrika Barat, setelah diserang gajah liar. Selain letak rumah duka di tengah pemukiman padat, jalan menuju lokasi tersebut melewati puluhan tikungan.

Saat sampai di rumah duka sekitar pukul 14.00 kemarin (12/8), tampak pelayat silih berganti datang untuk ikut bela sungkawa terhadap keluarga pria 48 tahun itu.

Selain warga sekitar, tampak kerabat mereka menunggu dan melayani tamu yang takziah. Termasuk saat wartawan Koran ini tiba, lalu dipersilakan duduk di teras rumah berukuran sekitar 4x7 meter itu. Sajian jajanan dan minuman sudah tersedia untuk diberikan kepada para pelayat yang datang.

“Sempat kaget saat diberi kabar adik meninggal karena kecelakaan kerja. Apalagi kabarnya ditabrak gerombolan gajah mengamuk di ladang sawit tempat kerjanya,” jelas kakak kandung korban, Iswarin.

Setelah dapat kabar duka pada Senin (6/8) lalu, lantas menuju rumahduka untukmemastikan kebenaran informasi itu.

“Menetap sementara di Tulungagung setelah mendengar kejadian tersebut. Ternyata memang benar,” ungkap pria yang berdomisi di Pasuruan ini.

“Sekitar enam hari jenazah baru sampai tadi malam itu (kemarin, Red) yang diantarkan langsung petugas dari Gabon,” imbuh bapak 58 tahun itu.

Tak lama, ambulans parkir di halaman rumah duka. Jenazah yang diletakkan di dalam peti putih lantas dicek keluarga.

“Yang jelas peti dibuka dulu oleh keluarga untuk memastikan benar-benar adiknya, kemudian diberi tanah di beberapa wajahnya,” ungkapnya.

Dia mengakui, adiknya dikenal baik dan religius. Dibuktikan, pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren (ponpes) sekitar 12 tahun dan menjabat pengurus organisasi masyarakat (ormas) terbesar di Indonesia. “Dulu pernah nyantri,”  ungkapnya.

Di tempat sama, istri Munangim, Siti Maryamah mengatakan, sebelum ditinggal suaminya, tidak merasakan firasat buruk. Hari-hari dijalani biasa dan selalu komunikasi melalui video call.

Namun, muncul kecurigaan saat biasanya suaminya ketika jam istirahat bekerja dan selalu menghubungi orang di rumah untuk memberikan kabar. Esok hari, ternyata dapat kabar jika  suaminya meninggal dunia setelah diserang gajah liar.

“Terkait pemulangan jenazah,  ditanggung perusahaan. Kami tidak mengeluarkan dana apa pun,” tambahnya.

Dia ikhlas menerima apa pun yang terjadi karena sudah digariskan Tuhan.

“Sudah ikhlas dan sabar. Anak saya tiga. Pertama lulus SMA, kedua kelas empat SD, dan terakhir masih umur tiga tahun,” ungkapnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia