Jumat, 24 May 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Lestarikan Tradisi, Jamas Pusaka Tombak Korowelang

31 Agustus 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

RUTIN: Petugas penjamasan memberi wangi-wangian pusaka tombak Korowelang usai dijamas, kemarin

RUTIN: Petugas penjamasan memberi wangi-wangian pusaka tombak Korowelang usai dijamas, kemarin (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Penjamasan pusaka tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi pada pusaka yang menjadi simbol dan diandalkan (piandel) daerah tertentu. Untuk itu,  harus dilakukan setiap tahun karena menjadi ciri khas suatu daerah. Inilah yang membuat tradisi penjamasan pusaka tombak Korowelang terus dilakukan hingga kemarin (30/8).

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sebelum penjamasan yang dimulai sekitar pukul 10.00 itu, sehari sebelumnya petugas melihat kondisi pusaka. Yakni untuk melihat tingkat kekotoran pusaka, agar persiapan peralatan penjamasan yang dibutuhkan lebih mudah. Setelah melihat kondisi pusaka, baru peralatan dan bahan disiapkan. “Jamasan pusaka ini akan kami laksanakan setiap tahun pada perayaan Hari Jadi Trenggalek. Itu agar masyarakat dan generasi muda tahu cara menjamasinya,” ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek Sunyoto.

Dia melanjutkan, dalam penjamasan, bahan yang diperlukan tidak terlalu rumit. Yaitu sesuai dengan kata penjamasan. Sehingga diperlukan air untuk membasuh, jeruk nipis sebagai pengganti sabun, ditambah minyak khusus pusaka, agar kebersihan pusaka akan tetap terjaga dan wangi. Acara penjamasan pusaka itu dimulai dari ujub wilujengan atau pembacaan doa dengan bahasa Jawa. “Setelah dijamas, pusaka akan kami simpan kembali sebelum melakukan serangkaian prosesi seperti malam tirakatan dan sebagainya,” katanya.

Penjamasan dimulai dengan pembasuhan mata tombak dengan air. Selanjutnya, mata tombak itu dibersihkan dengan jeruk nipis sebagai pengganti sabun untuk menghilangkan kotoran juga karatan pada pusaka. Itu dilakukan karena jika memakai sabun kimia, dikhawatirkan warna pusaka akan cepat pudar akibat terkena zat dari sabun. Setelah pembersihan mata tombak itu selesai, dilakukan pembilasan dengan air. Untuk menjaga kebersihan pusaka agar tetap awet, selanjutnya diberikan minyak khusus dan wangi-wangian.

Selain penjamasan pusaka tombak Korowelang, juga dilakukan pembersihan pusaka lainnya. Seperti songsosng Tunggu Wibawa, songsong Tunggu Naga, dan bendera Parasamya Purnakarya Nugraha. “Pusaka merupakan lambang suatu daerah, makanya selalu kami lestarikan agar bisa menjadi contoh masyarakat untuk melestarikan tradisi daerah,” jelas mantan sekretaris dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga ini. (jaz/ed/and)

 

 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia