Minggu, 15 Sep 2019
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

DBD Renggut Tiga Korban Jiwa

04 September 2018, 11: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS DEMAM BERDARAH

GRAFIS DEMAM BERDARAH (HENDRA NOVIAS/RATU)

TULUNGAGUNG –Kasus demam berdarahdengue (DBD) di Kota Marmer mengalami kenaikan.Berdasarkandata Dinas Kesehatan(Dinkes) Tulungagung, pada  tahun 2017tercatat sebanyak 128 kasus dengan empat kasus meninggal. Sepanjangtahun 2018 mulai Januari hingga Agustus, meningkat menjadi 171 kasus dengan tiga kasus meninggal.

Di samping itu, kasus DBD paling tinggi terjadi pada Juni, yakni sebesar 45 kasus.

 “Terserang DBD hingga menimbulkan korban jiwa karena terlambat mendapat perawatan,” jelas Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka kemarin (3/9).

WASPADA: Seorang pasien anak ketika antre berobat di Puskesmas Kedungwaru. Penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan.

WASPADA: Seorang pasien anak ketika antre berobat di Puskesmas Kedungwaru. Penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Lanjut dia, faktor cuaca mempengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Tahun 2018 curah hujan lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2017. Untuk diketahui, siklus hidup nyamuk itu sebenarnya bukan saat hujan terus-menerus.

Melainkan ketika cuaca tak menentu. Sehari hujan sehari tidak. Saat tidak turun hujan itulah, telur-telur nyamuk yang berada di genangan air menetas. Ditambah kurang kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sehingga nyamuk kian mudah berkembang.

“Faktor yang tidak bisa dihindari itu cuaca. Ditambah kesadaran masyarakat untuk melakukan PSN masih rendah,” terangnya.

Meski mengalami peningkatan, kasus DBD di Tulungagung masih dapat ditangani.

“Penderita masih tertangani dengan baik hingga mereka sembuh. Jadi masih aman,” terangnya.

Dia menjelaskan, setidaknya ada tiga fase penyakit DBD. Gejala paling khas ketika terjangkit DBD adalah mengalami demam tinggi. Pada fase ini, penderita akan mengalami demam tinggi secara tiba-tiba, setidaknya selama dua hingga lima hari. Seta disertai dengan nyeri pada seluruh tubuh dan kulit memerah.

Fase selanjutnya disebut fase kritis.

Dia memaparkan, fase inilah yang perlu diwaspadai. Pasalnya, demam akan turun dan penderita merasa sembuh.

“Fase ini terkadang menjadi pengecoh. Karena suhu tubuh turun dan penderita merasa sembuh. Padahal, ini yang perlu diwaspadai trombosit turun,” jelasnya.

Fase terakhir dari DBD adalah fase penyembuhan. Pada fase ini penderita akan kembali mengalami demam. Untuk itu, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat membantu meningkatkan jumlah trombosit. Seperti mengonsumsi jambu biji.

Penyakit DBD, menurut dia, merupakan penyakit disebabkan virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk jenis Aedes aegypti. Nyamuk aedes senang berada di genangan air dan pada daerah yang lembap.

Seperti pada tempat penyimpanan air, talang hujan, dan tempat-tempat penyimpanan air lainnya. Nyamuk yang memiliki ciri khas tubuh berwarna belang hitam putih ini kerap mencari mangsa pada pagi dan sore hari. Meskipun tidak termasuk dalam kejadian luar biasa (KLB) DBD, tapi untuk menekan jumlah kasus DBD, dinkes mengimbau masyarakat untuk melakukan PSN di rumah dan lingkungan masing-masing. Setidaknya seminggu sekali periksa dan buang genangan air di setiap tempat yang dijadikan penampungan air. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur.

“Upaya preventif kami melakukan penyuluhan, pencegahan sarang nyamuk ke masyarakat, serta fogging di lokasi yang ditemui kasus DBD. Namun, semua juga harus didukung masyarakat,” tandasnya. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia