Sabtu, 22 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Sumber Air dalam Tahap Kritis

Selasa, 04 Sep 2018 12:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENYEJUKKAN: Kondisi Telaga Buret di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, yang tetap ada airnya meskipun sedang kemarau.

MENYEJUKKAN: Kondisi Telaga Buret di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, yang tetap ada airnya meskipun sedang kemarau. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

TULUNGAGUNG – Keberadaan sumber air di Kota Marmer tampaknya semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun dari forum komunitas hijau (FKH), dari sekitar 2 ribu sumber air yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini, hanya sebagian kecil yang masih aktif. Alhasil, mayoritas yang lain dalam kondisi sekarat khususnya saat musim kemarau seperti saat ini.

Ketua FKH Karsi Nerro Soethamrin mengatakan, kondisi sebagian besar sumber air di Tulungagung memang dalam tahap kritis. Selain karena musim kemarau yang sedang terjadi, kondisi ekosistem yang berada di sekitar sumber air bersangkutan memang kurang bisa mendukung upaya pemertahanan.

“Ekosistem yang berada di sekitar memang berpengaruh terhadap keberlangsungan sumber air,” katanya kepada Koran ini kemarin (3/9).

Menurut dia, kondisi tersebut memang tidak begitu terasa saat musim penghujan tiba. Namun saat kemarau seperti kini, tentu baru bisa merasakan dampak dari sedikitnya volume air yang mengalir dari mata air. Baik itu bagi lahan pertanian, maupun warga di sekitarnya.

“Semua merasakan dampak jika sumber air menyusut dengan drastis,” jelasnya.

Pria berambut panjang ini melanjutkan, sumber air yang tersebar di banyak titik memang hanya sekadar pernah didata. Bahkan, dirinya secara pribadi belum pernah melihat ada upaya signifikan mengenai upaya menjaga kelestarian sumber air tersebut.

“Kami hanya memiliki data terakhir antara tahun 2008 hingga 2009. Setelah itu, kami belum tahu apakah ada pendataan lagi atau tidak,” tuturnya.

Dari data yang didapat, dalam sekitar satu dekade silam itu memang ada sekitar 2 ribu sumber air. Sebagian dialirkan untuk mengisi beberapa embung yang dibangun pemerintah.

“Keberadaan embung memang bisa menjadi solusi agar sumber air yang tersedia tidak hilang begitu saja,” ujar pria berkulit sawo matang.

Sementara itu, Yono, salah satu pengunjung Telaga Buret mengatakan, sumber air memang harus tetap dijaga kelestariannya seperti halnya di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat ini. Karena di sekitar lokasi tentu banyak pepohonan dan bisa digunakan untuk bersantai.

“Lagi pula keberadaan sumber air yang tetap lestari juga bisa digunakan untuk sarana wisata,” katanya. (rka/ed/din)  

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia