Rabu, 29 Jan 2020
radartulungagung
icon featured
Features

Di Balik Penghargaan Kalpataru 2018 yang Diraih Kelompok Hampar

Secara Masif Tanam Pohon di Sekitar Telaga Buret

04 September 2018, 13: 45: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

BANGGA: Karsi Nero menunjukkan trofi Kalpataru 2018 yang diraih kelompoknya kemarin (3/9).

BANGGA: Karsi Nero menunjukkan trofi Kalpataru 2018 yang diraih kelompoknya kemarin (3/9). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Menjaga lingkungan hidup memang menjadi tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu, dengan disertai dedikasi tinggi, membuat kelompok habitat masyarakat peduli alam raya (Hampar) di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, mendapat penghargaan Kalpataru 2018 dari pemerintah pusat. Kini tugas mereka adalah menyebarkan virus penyelamatan lingkungan secara lebih luas.

DHARAKA R. PERDANA

Suasana Telaga Buret di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, memang terasa sejuk. Angin sepoi-sepoi tidak mengindikasikan jika sedang musim kemarau yang ditandai panas terik matahari menghajar bumi. Bahkan, air dari telaga yang berada di bawah perbukitan itu bisa menyejukkan pandangan mata.

Namun, Koran ini urung beristirahat sejenak di situ karena Karsi Nerro Soethamrin, ketua Hampar, sedang berada di rumah. Alhasil, tujuan awal pun beralih ke sebuah rumah yang interiornya cukup unik di pinggir jalur utama Campurdarat-Tanggunggunung itu. Ternyata, yang bersangkutan sedang duduk-duduk di ruang tamu yang tidak seberapa luas.

“Kebetulan hari ini sedang tidak ada acara. Jadi di rumah saja,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, apa yang sudah diraih Hampar memang tidak pernah dipikirkannya maupun rekannya yang lain. Apalagi, berkaca dari pengalaman 2015 lalu yang masuk nominasi, mereka harus melalui serangkaian proses administrasi yang cukup melelahkan. Namun, semua ternyata mendukung sepenuhnya apa yang sudah disepakati bersama.

“Ternyata semua all out mempersiapkan segala hal untuk mendukung keikutsertaan di Kalpataru,” jelasnya.

Dalam acara yang digelar di Bitung, Sulawesi Utara beberapa hari yang lalu, Presiden Jokowi sempat berpesan agar terus menjaga kelestarian dari lingkungan hidup itu sendiri. Itu sejalan dengan pemikiran seluruh anggota, mengingat bukan perkara mudah untuk mewujudkan hal yang sudah dinikmati saat ini. Apalagi, luas hutan yang dikelola di sekitar Telaga Buret mencapai sekitar 22,8 hektare.

Mereka tidak ingin peristiwa yang terjadi pada 1990-an silam terulang kembali. Yakni hutan di Telaga Buret hancur akibat pembalakan liar yang tak terkendali. Akibatnya, pohon besar yang tersisa bisa dihitung jari dan hewan-hewan juga mulai punah karena diburu.

Melihat kehancuran itu, Karsi mulai bergerak pada 1998 bersama dua temannya. Secara masif, mereka mulai menanam pohon di sekitar Telaga Buret. Di samping itu, mereka juga menyadarkan pola pikir masyarakat sekitar agar tidak melakukan illegal logging. 

Berkat usaha yang sungguh-sungguh dan tanpa lelah, pada 1999 Perhutani mempercayakan pengelolaan hutan seluas 1,9 hektare di sekitar Telaga Buret kepada Karsi dan kawan-kawan. Bahkan pada tahun-tahun selanjutnya, lahan hutan yang dikelola terus bertambah. Puncaknya pada 2002, empat kepala desa di sekitar telaga membuat ikrar untuk menjaga kelestarian ekosistem setempat.

“Jika ada yang melanggar, pasti mendapat sanksi,” tuturnya sambil tertawa.

Kini, para petani pun merasakan hasil dari terjaganya kelestarian Telaga Buret. Meskipun musim kemarau, lahan persawahan mereka tidak pernah kekurangan air. Karena Telaga Buret tidak pernah kehabisan air untuk dialirkan ke persawahan.

“Makanya kami menganggap raihan Kalpataru ini merupakan momen untuk menularkan virus kebaikan kepada seluruh warga Tulungagung khususnya,” ujarnya.

Meskipun disadari, pria yang identik dengan kopiah dan berambut gondrong ini mengaku, untuk menyadarkan masyarakat dalam hal kelestarian lingkungan, memang bukan perkara mudah. Bahkan dari pandangannya, baik warga yang berdomisili di sekitar pusat pemerintahan maupun di wilayah pinggiran harus melakukan hal yang sama. Di satu sisi, kaum terpelajar harus bisa menelurkan berbagai kebijakan yang mendukung kelestarian lingkungan dan masyarakat pinggiran menunggu implementasinya.

“Semua harus dimulai dari lingkungan sekitar. Bahkan kalau bisa, jangan sampai ada sampah yang menumpuk dan mengganggu pemandangan,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia