Rabu, 11 Dec 2019
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Berbahaya, Kapolres Instruksikan Tutup Total KM 16

04 September 2018, 14: 45: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

RAWAN: Operator ketika mengoperasikan alat beratnya guna membersihkan material longsor

RAWAN: Operator ketika mengoperasikan alat beratnya guna membersihkan material longsor (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Kendati masih musim kemarau, bencana alam berupa tanah longsor terus saja terjadi di wilayah Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu. Tepatnya di kilometer (KM) 16 jalan raya Trenggalek-Ponorogo. Pasalnya, hampir dua minggu ini, jalur nasional itu kerap tertutup material longsor dari dari tebing setinggi 50 meter yang tepat berada di sampingnya. Hal itu seperti yang terlihat di lokasi kemarin (3/9).

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sejak sekitar pukul 18.11 Minggu (2/9), ruas jalur itu ditutup total. Dari yang sebelumnya masih diberlakukan buka-tutup. Sebab, sangat berbahanya jika dilalui kendaraan. Mengingat material longsor sering turun dari bukit karena getaran kendaraan.

“Kami tak mau ambil risiko dengan permasalahan ini. Sehingga daripada terjadi korban, lebih baik ruas jalur ini ditutup total,” ungkap Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibawa Saputra yang ditemui saat meninjau lokasi.

Dia melanjutkan, sebab longsor yang terjadi di lokasi ini kemungkinan lebih berbahaya dari longsor sebelumnya. Alasannya, bukan disebabkan rembesan air hujan, melainkan getaran alat berat pembangunan proyek di sekitar lokasi dan kendaraan besar seperti truk. Sehingga ketika ada kendaraan yang lewat, bisa saja tanah yang disertai bebatuan tersebut turun.

Ketika ada penutupan jalan, polisi pun langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memasang rambu-rambu pemberitahuan terkait hal itu. Yakni agar pengguna jalan tidak terlalu jauh jika ingin memutar.

”Rambu-rambu pemberitahuan akan penutupan ini telah kami pasang. Namun karena berbagai alasan, tetap saja ada puluhan pengguna jalan yang menunggu hingga jalur dibuka kembali,” katanya.

Pembersihan material mulai dilakukan pagi harinya dengan menggunakan dua mesin ekskavator dan satu loader. Tujuannya agar proses pembersihan cepat selesai dan menambah sedikit kelebaran jalan.

Dari situ sekitar pukul 12.15, diberlakukan buka tutup jalur agar pengguna jalan yang telah menunggu sejak malam hari bisa melaluinya. Setelah dinilai cukup, jalan ditutup total kembali untuk proses pembersihan material longsor selanjutnya.

Sedangkan untuk kondisi pada malam hari, AKBP Didit belum bisa menjelaskan secara pasti akan diberlakukan penutupan total atau buka-tutup. Sebab, hal itu perlu koordinasi dengan berbagai pihak, terkait kondisi tebing dan jalur itu apakah mungkin untuk dilalui.

“Intinya pada malam hari dilihat saja kondisi saat itu. Jika berisiko, lebih baik jalur ditutup total,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pengemudi truk asal Jawa Tengah, Supriyono mengaku menunggu lebih dari tujuh jam hingga pembersihan longsor selesai untuk melewati jalur. Kendati demikian, dirinya tetap khawatir akan kondisi tebing tersebut. Sebab, longsor masih sering terjadi, kendati petugas seringkali membersihkan. Hal itu cukup berisiko jika longsor datang ketika dirinya dan pengguna jalan lainnya melintas.

“Kendati khawatir, tidak ada yang bisa saya lakukan selain memaksa melintasi jalur ini. Makanya karena sangat berisiko, sebagian bus ke Ponorogo, memilih memutar arah dan mengoperkan penumpangnya,” cetusnya. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia