Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Pedagang Tolak Food Court Prigi

Kamis, 06 Sep 2018 14:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TAK JENAK: Suasana warung makan  di pesisir Pantai Prigi. Pemerintah berencana bangun food court.

TAK JENAK: Suasana warung makan di pesisir Pantai Prigi. Pemerintah berencana bangun food court. (DARMAN FOR RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Para pedagang atau warung di pesisir Prigi sedang galau. Pasalnya, pemerintah daerah berencana mendirikan food court di Pantai Prigi. Padahal, sebelumnya mereka diminta untuk bergeser ke belakang atau menjauh dari bibir pantai. Tak pelak, ini memicu kekhawatiran atas kelangsungan usaha yang sebagian besar di bidang kuliner.

"Kami menolak jika dibangun food court,” ujar Darman, ketua pokdarwis (kelompok sadar wisata) Prigi Sae, kemarin (5/9).

Pihaknya mengetahui bahwa pembangunan sarana kuliner ini nanti tidak lain diperuntukkan pedagang warung makan yang ada di Pantai Prigi. Namun, konsep sarana kuliner ini dinilai tidak sesuai dengan kearifan lokal daerah, mengingat jenis makanan yang disajikan relatif sama. Ini berbeda dengan konsep food court yang ada di kota besar atau pusat perbelanjaan yang memiliki banyak variasi jenis makanan.

Di sisi lain, bangunan warung yang mereka tempati kini juga belum lama pindah atau bergeser dari lokasi yang sebelumnya. Untuk itu, jika ada kegiatan pembangunan lagi, otomatis berdampak pada aktivitas perdagangan. Padahal ada banyak pedagang yang memiliki tanggungan di bank dan setiap bulan harus dibayarkan.

Lebih jauh, Darman mengungkapkan, konsep food court ini justru dapat memicu kesenjangan antarpedagang. Mengingat langganan yang dimiliki pedagang tidaklah sama ramainya.

“Lha kalau pelanggan saya penuh terus duduk di meja depan warung tetangga, apa gak bengkerengan antarpedagang?” tanya dia.

Pria ramah ini khawatir jika konsep yang bakal disajikan untuk pedagang ini tidak tepat sasaran alias gagal. Menilik sejumlah kebijakan serupa yang selama ini tidak tampak hasilnya. Seperti warung atau kios yang ada di terminal atau parkiran depan loket masuk wisata.

“Perahu juga begitu. Nilainya miliaran juga tidak tepat guna,” tambahnya.

Pihaknya juga mengaku selama ini tidak ada sosialisasi dari pemerintah atas rencana pembangunan sarana kuliner tersebut. Sebaliknya, para pedagang mengaku telah memiliki komitmen dengan pemerintah daerah bahwa penataan warung pascapergeseran tahun lalu disepakati dengan luas 5x10 meter.

“Intinya kami menolak pembangunan food court ini,” tegas dia.

Sementara itu, Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak mengatakan, rencana pembangunan food court di Pantai Prigi ini diketahuinya seusai cuti pilkada lalu. Dia pernah menyampaikan agar berembug dahulu dengan para pedagang jika mereka tidak berkenan dengan sarana kuliner food court di pesisir Pantai Prigi.

“Kalau memang mereka keberatan dengan konsep food court, kita sesuaikan saja dengan keinginan mereka konsepnya,” begitu Emil menceritakan.

Itu dengan maksud akan ada wajah baru di Prigi yang bisa mempercantik atau mendukung aktivitas pariwisata di kawasan tersebut.

Emil juga mengaku telah mendapat laporan dari dinas telah ada komunikasi dengan pedagang mengenai rencana konsep sarana kuliner ini dan sudah ada solusi untuk pelaksanakan kegiatan di Pantai Prigi ini.

“Kekhawatiran (pedagang, Red) akan konsep food court itu karena tidak ada ruang ekslusif. Mereka juga butuh tempat untuk menyimpan barang. Nah, ini kita akomodasi untuk mereka menyimpan inventaris. Memang mereka tidak senang dengan konsep pujasera,” terang Emil. (hai/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia