Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal
Anak SD Digilir 8 Cowok

“Main” Sebanyak Sepuluh Kali, Sebelumnya Diajak Mendem

Jumat, 07 Sep 2018 10:45 | editor : Anggi Septian Andika Putra

“Main” Sebanyak Sepuluh Kali, Sebelumnya Diajak Mendem

BLITAR KABUPATEN –  Kata apa yang pantas diucapkan pada delapan pemuda  yang diduga tega memperkosa siswi SD kelas 5 ini? Biadab. Iya, itu yang cocok untuk menggambarkan kenekatannya.

Yang membuat geregetan lagi, para pemuda ruwet itu sebelum ramai-ramai memeloroti celana dalam korban, sebelumnya mencekoki dengan minuman keras. Usai korban, sebut saja Mlenuk (samaran, Red) yang berusia sekitar 11 tahun alias di bawah umur itu teler, para pemuda  bejat itu secara giliran menikmati kemolekan tubuh mungilnya. Tak tanggung-tanggung, setidaknya sudah sepuluh kali perbuatan ngawur itu dilakukan para pelaku.

Dua di antara delapan pelaku akhirnya berhasil dicokok. Dengan muka memelas dan menyesal, mengakui perbuatan yang dinilai tak manusiawi itu. Sementara enam pelaku hingga kini statusnya masih buron. Dua pelaku itu yakni Mustajab,23, warga Desa Togogan, Kecamatan Srengat dan Subakti, 30, warga Desa/Kecamatan Ponggok.

 Polisi kini terus memburu pelaku lainnya tega memperkosa bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) tersebut. Kini, dua pelaku itu harus mendekam di balik jeruji Mapolres Blitar Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

 Akibat perbuatannya itu, pelaku dijerat pasal 81 ayat 1 ayat 2 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 01 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. "Atas kasus ini, ancaman hukuman para pelaku antara 5-20 tahun penjara," ujar Kasubbag Humas Polres Blitar Kota Iptu Syamsul Anwar, kemarin (6/9).

 Syamsul mengungkapkan, aksi pencabulan hingga berakhir pemerkosaan itu sudah berlangsung lama. Hasil penyidikan unit Pelayanan Perempuan Anak (PPA) Polres Blitar Kota yang menangani kasus itu bahwa sudah dilakukan sekitar tiga tahun terakhir. "Ya, perbuatan para pelaku ini dilakukan rentang tahun 2016 hingga 2018," kata perwira berpangkat dua balok di pundak ini.

 Pengungkapan kasus itu berawal setelah orang tua korban melaporkan kejadian itu ke kepolisian pada Maret lalu. Saat itu, anaknya, korban sudah lima hari tidak berada di rumah. Selama lima hari itu, korban dipaksa untuk melayani nafsu bejat para pelaku. Keluarga pun khawatir dan berusaha mencari keberadaan bocah yang masih duduk di bangku SD itu.

 Beberapa hari kemudian, anak tersebut pulang ke rumah. Orang tua marah lantas menyita ponsel anaknya tersebut. Hingga akhirnya, korban menghubungi pelaku (Mustajab) untuk mengabari pacarnya, Solikin (buronan yang juga teman pelaku). "Korban ini minta menelepon pacarnya agar ponsel yang disita orang tuanya diambilkan," terangnya.

 Nah, saat itu Mustajab menghendaki permintaan korban. Namun dengan syarat korban mau berhungan intim. Pelaku juga berjanji akan memberikan uang jika mau berhubungan seksual. Tenyata, korban malah mengiyakan permintaan pelaku.

Setelah itu, pelaku menjemput di dekat rumahnya. Keduanya pergi dengan mengendarai sepeda motor.  Mlenuk diajak di rumah teman pelaku. Yakni Jarni (buronan). Di rumah itu teman-teman pelaku sudah berkumpul termasuk pacar korban, Solikin, Paidi (buronan), dan pelaku lainnya. Sebelum melakukan aksi bejatnya, korban dicekoki minuman keras dulu. Mereka pesta miras lebih dulu. Korban yang sudah teler itu akhirnya menjadi pelampiasan nafsu para pemuda bejat tersebut.

Mlenuk diperkosa secara bergantian oleh para pelaku. Pengakuan pelaku, perbuatan itu dilakukan sepuluh kali. "Ya, sudah  sepuluh kali," kata Mustajab dengan gamblang bercerita di hadapan media. Dia mengaku, saat memperkosa dalam kondisi terpengaruh minuman keras. "Korban saat itu juga minum," imbuhnya.

 Saat memperkosa Mlenuk itu, dia tidak sendiri. Mustajab mengajak pelaku lainnya (Subekti dan Paidi) serta Solikin, pacar korban. Mereka bergiliran menggagahi Mlenuk yang sudah lemah tak berdaya itu. "Yang pertama melakukan itu Solikin dulu. Lalu, Paidi dan setelah itu baru saya," ungkapnya.

Subakti, pelaku lainnya mengatakan, ikut memperkosa korban karena diajak Mustajab. "Saya mau karena diajak," ujar pria yang mengaku sudah lama berpisah dari sang istri itu. Sebelum beraksi menggagahi Mlenuk, dia minum-minum dahulu. Dia mengaku hanya sekali saja melakukan perbuatan bejat itu. "Kalau saya hanya sekali melakukan. Itu pun saya ’keluarkan‘ di luar kok," akunya.

 Perbuatan bejat para pelaku akhirnya terbongkar setelah orang tua menginterograsi korban usai tidak pulang beberapa hari. Dengan polosnya, Mlenuk pun menjlentrehkan bahwasanya menjadi korban pemerkosaan para pelaku. Akhirnya, keluarga pun memboyong kasus tersebut ke polisi. Akhirnya dua pelaku ditangkap. Dari tangannya, polisi menyita barang bukti berupa pakaian dalam korban. Seperti celana dalam, BH hingga pakaian. Hingga kini, korban pun masih dalam penanganan psikis lantaran trauma akibat perbuatan para pelaku. (sub/ed/ziz)

(rt/kan/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia