Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Deadlock, Pindah ke Lokasi Lain

Jumat, 07 Sep 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS PENOLAKAN FOOD COURT PRIGI

GRAFIS PENOLAKAN FOOD COURT PRIGI (Alwik Ruslianto/RATU)

TRENGGALEK -  Pelaksanaan pembangunan sarana kuliner di pesisir Prigi terpaksa tertunda. Dinas pariwisata dan kebudayaan (dispardbud) membutuhkan waktu sepuluh hari untuk persuasif  dengan para pedagang yang menolak keberadaan food court tersebut. Jika deadlock, pelaksanaan pembangunan itu kemungkinan akan dialihkan untuk kegiatan atau lokasi lain.

Kepala Disparbud Joko Irianto menyayangkan langkah yang diambil sebagian pedagang yang menolak pembangunan food court tersebut. Pihaknya mengklaim tidak semua pedagang atau warung kuliner yang ada di pesisir Prigi menolak rencana tersebut.

“Kami sudah sosialisasi beberapa kali. Ada sekitar 13 warung yang bersedia dibangun food court,” katanya kepada Koran ini, kemarin (6/9).

Lokasi pembangunan sarana kuliner ini berada persis di belakang warung yang ada di pesisir Pantai Prigi. Diakuinya pula, kegiatan itu akan menggunakan sebagian area warung sisi belakang yang kini ditempati para pedagang. Kegiatan pembangunan sarana kuliner ini telah selesai lelang dan bakal dikerjakan dengan anggaran sekitar Rp 900 juta.

Nantinya, jika food court tersebut selesai dikerjakan, pedagang yang ada di depan food court diminta menempati sarana yang telah disediakan. Karena warung yang ada di depan food court jelas harus dibersihkan agar food court bisa langsung menghadap laut.

“Kami juga sudah sampaikan, nanti kalau tempatnya kurang (untuk penyimpanan barang), pedagang bisa menambah bangunan sendiri di bagian belakang food court,” jelas dia.

Untuk sementara ini, pihaknya menyediakan waktu sekitar sepuluh hari untuk komunikasi kembali dengan sejumlah pedagang yang menolak pembangunan food court ini. Jika dalam batas waktu yang diberikan tidak ada kata sepakat, pihaknya berencana melaporkan kendala tersebut kepada pimpinan.

Joko, sapaan akrabnya, tampak sedikit kecewa dengan respons pedagang di Prigi terhadap rencana pemerintah pembangunan sarana untuk mempercantik lokasi wisata. Padahal, ada banyak lokasi lain yang juga membutuhkan sentuhan pemerintah. Misalnya saja, di Karanggongso, Pelang, maupun di lokasi-lokasi wisata lain yang juga membutuhkan anggaran untuk perbaikan fasilitas guna meningkatkan geliat ekonomi di lokasi tersebut.

“Masih banyak kok yang perlu dibangun. Contohnya Pelang, Karanggongso, Gua Lowo, kolam renang, dan lainnya,” tegas dia.

Sebelumnya, Darman, ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) Prigi Sae mengatakan bahwa para pedagang tidak sepakat dengan pembangunan sarana kuliner dengan konsep food court tersebut.

Alasannya, konsep ini tidak sesuai dengan kearifan lokal. Food court yang biasa ada di kota-kota besar biasanya memiliki menu atau jenis makanan yang banyak. Padahal untuk jenis menu yang disediakan di pesisir relatif sama, seafood.

Di sisi lain, tingkat keramaian antarwarung juga berbeda. Dikhawatirkan ini akan memicu kesenjangan antarpedagang, mengingat warung yang lebih ramai jelas akan memanfaatkan bangku-bangku kosong di depan warung yang lebih sepi.

Pria ramah ini khawatir jika konsep yang bakal disajikan untuk pedagang ini tidak tepat sasaran alias gagal. Menilik sejumlah kebijakan serupa yang selama ini tidak tampak hasilnya. Seperti, warung atau kios yang ada di terminal atau parkiran depan loket masuk wisata. (hai/ed/rka)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia