Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Cerita Para Atlet Trengalek yang Ikut Asian Games di Jakarta-Palembang

Sabtu, 08 Sep 2018 11:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TETAP MEMBANGGAKAN: Gustin Dwijayanti, Dwi Samsul Arifin, dan Rini Susanti, atlet Trenggalek yang ikut bertanding pada Asian Games beberapa waktu lalu.

TETAP MEMBANGGAKAN: Gustin Dwijayanti, Dwi Samsul Arifin, dan Rini Susanti, atlet Trenggalek yang ikut bertanding pada Asian Games beberapa waktu lalu. (PARA ATLET FOR RADAR TRENGGALEK)

Tiga putra-putri terbaik Kota Keripik Tempe ikut mewarnai jalannya Asian Games 2018 beberapa waktu lalu. Mereka adalah Gustin Dwijayanti, Dwi Samsul Arifin, dan Rini Susanti. Bermain kala Indonesia menjadi tuan rumah merupakan tantangan tersendiri. Berikut pengalaman mereka.

AGUS MUHAIMIN

“Tegangnya lebih. Itu karena main di rumah sendiri yang jadi tuan rumah,” ungkap Gustin Dwijayanti, atlet tenis meja yang menjadi salah seorang peserta Asian Games beberapa waktu lalu.

Warga Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, ini mengakui, di event olahraga bergengsi ini, setiap negara menghadirkan atlet-atlet pilihan. Tak pelak, bukan perkara mudah untuk bisa meraih poin kemenangan dalam setiap laga.

Latihan berbulan-bulan yang dia jalani sebelum pelaksanaan Asian Games ini boleh dikatakan maksimal. Namun, hal serupa juga jelas dilalui atlet-atlet dari negara lain. Hasilnya, timnya harus mengakui keunggulan lawan.

“Bener-bener berat untuk bisa menang,” akunya.

Kendati begitu, Gustin mengaku latihan yang dijalani bukan tanpa hasil. Minimal dia tahu bahwa dibutuhkan upaya lebih keras agar memenangkan setiap kompetisi.

“Ini adalah event terbesar yang pernah saya ikuti untuk kategori event dari berbagai cabang olahraga,” imbuhnya.

Pasca-event antaranegara ini, masih banyak tantangan yang harus dilalui oleh Gustin. Misal saja, untuk persiapan pekan olahraga nasional (PON). Untuk kepentingan ini pula, Gustin rencananya akan berangkat ke Surabaya memulai latihan. “Mulai sekarang harus kembali fokus latihan untuk persiapan PON,” terangnya.

Dari cabang olahraga (cabor) sepak takraw, seorang warga Trenggalek juga terpilih mewakili Indonesia dalam Asian Games. Dia adalah Rini Susanti, warga Desa Wonocoyo, Kecamatan Pogalan. Event ini juga diakui Rini sebagai perhelatan olahraga terbesar yang pernah diikuti. Jika di level nasional, dia kerap kali membawa pulang medali. Tidak demikian dengan momen empat tahunan tersebut. Dia dan rekan setimnya belum beruntung untuk menyumbangkan medali bagi negaranya.

“Sedih ya sedih. Tapi yang sudah ya sudah. Harus diperbaiki lagi,” akunya sambil sedikit menceritakan kekalahan saat melawan Myanmar dan Vietnam.

Latihan dengan tim sepak takraw lainnya juga tidak kalah berat. Model permainan yang agresif coba diterapkan sebagai salah satu upaya mengukir kemenangan. Sayang, kontingen dari negara lain juga menerapkan hal yang sama. Akhirnya, Rini dan kawan-kawan harus mengakui kekalahan dengan skor 2:1, baik itu dari Myanmar maupun dari Vietnam. “Strateginya dua regu itu yang pilihan. Tapi sayang, hanya satu yang berhasil menang,” ungkapnya.

Baginya, bertemu dengan lawan-lawan tangguh dari berbagai negara merupakan pengalaman sangat berharga. Dia pun menjadikan Asian Games ini sebagai motivasi, agar ke depan bisa lebih baik lagi.

“Bisa main di Asian Games ini saja sudah sangat bersyukur,” terang peraih emas saat PON 2012 ini.

Di lokasi terpisah, Dwi Samsul Arifin, atlet cabor senam lantai juga belum beruntung dalam Asian Games ini. Meskipun kerap kali dia mengharumkan nama bangsa di event olahraga Internasional, nyatanya tensi Asian Games sangat jauh berbeda.

“Aku hanya berhasil sampai finalis 4 saja. Itu sudah kebanggaan tersendiri,” kata warga Desa Prigi, Kecamatan Watulimo ini, kemarin (7/9).

Samsul juga baru kali pertama mengikuti Asian Games. Bermain di negara sendiri, menurut dia menjadi tantangan tersendiri. Artinya, tantangan harus menang menjadi lebih besar karena dia bermain di rumah sendiri. “Untuk senam memang berat. Kita kalah dalam banyak hal, terutama fasilitas,” katanya.

Meski begitu, masih ada banyak waktu memperbaiki. Mengingat rata-rata usia atlet, terutama yang dari Trenggalek memungkinkan untuk mengikuti kontetasi serupa tahun depan.

Kendati belum bisa menyumbangkan medali untuk negara, pemerintah tetap memberikan bonus kepada para atlet yang juga ikut berjuang mengharumkan nama bangsa dalam ajang olahraga antarnegara ini. Bahkan, kabarnya pemerintah Kota Keripik Tempe juga menyedikan hadiah bagi para atlet-atlet yang dipercaya mewakili negara dalam Asian Games tersebut. (ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia