Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Niken Yatnaningtias, Perajin Sulam Mataraman

Sabtu, 08 Sep 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

PRODUKTIF: Niken Yatnaningtias tak hanya membuat kerajinan sulam, tapi juga menularkan ilmunya kepada masyarakat

PRODUKTIF: Niken Yatnaningtias tak hanya membuat kerajinan sulam, tapi juga menularkan ilmunya kepada masyarakat (NIKEN YATNANINGTIAS FOR RATU)

Banyak hal dilakukan untuk menambah pemasukan ekonomi. Salah satunya membuat kerajinan sulam. Seperti yang dilakukan Niken Yatnaningtias. Warga Jalan Pahlawan, Desa/Kecamatan Kedungwaru, itu membuat berbagai jenis kerajinan sulam. Dia menyebutnya sulam Mataraman.

WHENDY GIGIH PERKASA

Tidak pernah terbayang dalam benak Niken Yatnaningtias jika dia bakal sukses menjadi perajin sulam. Sebab, wanita berhijab itu dahulu merupakan pekerja di salah satu perusahaan dan sudah memiliki jabatan sebagai manajer.

Namun, karena suami pindah tugas ke luar daerah, Niken harus mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja. Yakni harus mengurus dua anak di rumah. Kondisi itu membuatnya bosan dan bingung.

Sampai akhirnya, Niken mengikuti pelatihan sulam pita yang digelar Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dari pelatihan itulah, dia mulai belajar sulam. Menyulam bisa dibilang menjahit dengan tangan. Ada berbagai jenis tusuk sulaman. Beberapa di antaranya tusuk tikam jejak, tusuk flanel, festo, rantai, pipih, silang, simpul, tulang ikan, dan lain-lain. Tujuan menyulam semata-mata menciptakan keindahan.

Dia pun iseng membuat sulaman di beberapa hijab koleksinya. Karena merasa senang mendapat keterampilan baru, dia upload ke situs jejaring sosial. Ternyata itu ditanggapi positif. Salah seorang temannya langsung memesan 125 lembar jilbab untuk suvenir haji.

“Alhamdulillah sejak saat itu jadi semangat. Pesanan perdana itu bisa selesai sekitar 1,5 bulan,” ungkapnya saat wawancara beberapa hari lalu.

Dia lantas mencoba beberapa varian lain. Di antaranya taplak meja, tempat tisu, tudung saji, dan tutup galon. Ada juga sofa set terdiri atas sarung bantal sofa. Hasilnya, dia pun kebanjiran pesanan.

Banyaknya pesanan yang harus diselesaikan, membuat berpikir menularkan ilmunya. Termasuk melatih beberapa orang. Itu sekaligus sebagai peluang kerja bagi masyarakat.

“Akhirnya bisa mendapatkan orang yang bisa membatu pekerjaan saya dan buka peluang kerja bagi mereka. Menggeluti kerajinan sulam sudah sejak lima tahun lalu,” katanya.

Agar lebih mudah, warga yang dilatihnya untuk menyulam tidak perlu bekerja di rumahnya. Mereka bisa mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, kemudian menyetor hasil pekerjaan jika sudah selesai. Mereka juga tidak dilarang berkreasi di luar order-an.

“Mereka bisa membuat produk sulam apa saja. Saya membantu mereka untuk memasarkannya juga,” jelasnya.

Untuk membuat kerajinan sulam, wanita berusia 48 tahun itu butuh beberapa bahan. Di antaranya kain, pita, dan benang. Kain dan pita biasa didapat dari lokalan Tulungagung. Namun benang untuk sulam bayang padang langsung didatangkan dari Kota Bukittinggi. Tujuannya, agar sulam yang dihasilkan lebih bagus.

Berbagai hasil kerajinan sulam sudah bisa diproduksi ibu dua anak itu. Di antaranya jilbab sulam, tutup galon, tudung saji, tas, suvenir sulam, baju bersulam, dan masih banyak lainnya. Juga ada sofa set terdiri atas sarung bantal, taplak meja, dan tempat tisu.

Untuk pemasaran, dia sudah menjangkau beberapa daerah. Di antaranya wilayah di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Bahkan, dia sudah pernah memasarkan produknya ke luar negeri. Di antaranya Belanda, Itali, Malaysia, dan Hong Kong.

Pemasaran ke luar negeri dikirim lewat kedubes. Dia juga menitipkan kepada saudara atau pun para TKI.

Seiring berjalan waktu, justru semakin dikenal. Dia banyak diminta memberikan pelatihan sulam di berbagai instansi atau pun perusahaan besar. Beberapa di antaranya Dinas Koperasi UKM Trenggalek, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Trenggalek, Dinas Pariwisata Provinsi Jatim, dan lain sebagainya. Bahkan sejak setahun terakhir, dia memberikan pelatihan untuk pemberdayaan masyarakat desa tertinggal, bekerja sama dengan Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Serta pelatihan keterampilan untuk karyawan di pabrik rokok.

Tak hanya itu, dia juga memberikan pelatihan gratis kepada warga di sekitar rumahnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia