Sabtu, 22 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Pendidikan

Kembangkan Perpustakaan Digital, Masih Terkendala Jaringan

Senin, 10 Sep 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

RAMAI: Salah satu pengunjung perpustakaan daerah ketika mencari referensi untuk tugas sekolah.

RAMAI: Salah satu pengunjung perpustakaan daerah ketika mencari referensi untuk tugas sekolah. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Rencana Dinas Perputakaan dan Kearsipan Tulungagung untuk mengembangkan perpustakaan digital tidaklah mudah. Dengan layanan literasi berbasis internet, memang diharapkan bisa menjangkau masyarakat lebih luas. Namun hingga kini masih terkendala  jaringan.

Apalagi dengan pesatnya kemajuan teknologi, perpustakaan digital harus dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Dengan begitu, tetap dapat mengakses buku-buku dan sumber literasi melalui gadget.

Meski demikian, pihak dinas terus berupaya meningkatkan layanan kepada masyarakat dengan mengoptimalkan fasilitas yang ada. “Selain dengan penambahan koleksi buku, dinas mengupayakan perpustakaan keliling,” terang Kepala Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Tulungagung Marjadji kemarin.

Selain dengan perpustakaan keliling, lomba-lomba literasi penting dilakukan. Itu sebagai motivasi dan apresiasi pada generasi muda agar terus berkarya.

“Kami sering mengadakan lomba literasi seperti lomba story telling. Serta melakukan dropping buku ke sekolah untuk menambah referensi,” ungkapnya.

Menurut dia, upaya itu cukup efektif. Kini masyarakat mulai sadar dengan keberadaan perpustakaan dan pentingnya membaca. “Perpustakaan hendaknya menjadi tujuan pertama dan utama dalam mencari sumber-sumber literasi dalam mendukung pendidikan,” ungkap pria ramah ini.   

Dia menyebutkan, dalam sehari rata-rata pengunjung perpustakaan daerah sejumlah 250 pengunjung. Artinya, meningkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun lalu.

“Harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan,” terangnya.

Menurut Denny Heri Wahyudi, pustakawan SMAK St. Thomas Aquino, salah satu  faktor penghambat minat baca siswa adalah kian majunya teknologi seperti smartphone. Ini membuat siswa cenderung malas untuk membaca buku.

“Sekarang cukup dengan mengetikkan kata kunci di internet, semua tersedia. Ini menjadi nilai positif dan negatif,” tuturnya.

Dia menjelaskan, meskipun dengan kemudahan akses internet, buku tetap memiliki peranan penting. Pasalnya, beberapa sumber literasi di internet belum tentu benar. Sehingga siswa harus pandai memilah informasi.

Jika peran guru dan pustakawan dapat maksimal, bukan tidak mungkin perpustakaan dapat menjadi tempat refreshing dan diskusi bagi siswa.

“Harapannya pergi ke perpustakaan dan membaca buku menjadi kebiasaan bagi siswa. Bisa diskusi dengan teman atau sekadar membaca untuk hiburan. Bukan hanya karena tugas dan disuruh guru,” terangnya. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia