Senin, 24 Sep 2018
radartulungagung
icon featured
Trenggalek

Debit Air Terus Menurun

Senin, 10 Sep 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

DANGKAL: Kondisi aliran sungai yang melintasi Dam Dawung, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan mengalami penyusutan drastis saat kemarau.

DANGKAL: Kondisi aliran sungai yang melintasi Dam Dawung, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan mengalami penyusutan drastis saat kemarau. (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

TRENGGALEK - Musim kemarau yang terjadi beberapa bulan ini membuat sejumlah petani di Kota Keripik Tempe harus bisa mencari alternatif lain untuk mengairi sawahnya. Pasalnya, debit air di sungai yang biasa dimanfaatkan untuk mengairi sawah selalu turun. Ini seperti yang terjadi di pintu air Bendo, masuk Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan kemarin (9/9).

Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek di lokasi, sejak April lalu debit air di pintu air itu terus mengalami penurunan. Sebab, mulai bulan tersebut petugas hanya satu kali membuka pintu air untuk mengendalikan banjir, yang nantinya langsung menuju Pintu Air Neyama, Tulungagung.

”Terakhir kami membuka pintu air ini karena akan terjadi banjir, Selasa (10/4) lalu,” ungkap juru pintu air Bendo, Ahmad Saroni.

Dia melanjutkan, semenjak saat itu debit air setiap bulan di pintu air atau Dam Bendo terus mengalami penurunan. Itu terlihat mulai April hingga Agustus kemarin, debit air tertinggi setiap bulannya meliputi April 91 ekuivalen 60, Mei 90 ekuivalen 35, Juni 90 ekuivalen 10, Juli 90 ekuivalen 10, dan Agustus 89 ekuivalen 80. Sedangkan di bulan September ini, debit tertinggi pada 89 ekuivalen 10.

”Sepertinya saat ini ketinggian air di bawah satu meter. Makanya sedikit yang mengalir ke saluran pengairan atau bahkan tidak ada,” ungkapnya.

Kemungkinan dengan belum berakhirnya musim kemarau ini, debit air akan terus mengalami penurunan. Sebab berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, debit air terendah pada bulan Oktober. Mulai ada peningkatan sekitar bulan November. Sebab, sejak saat itu merupakan musim peralihan dari kemarau ke penghujan. Sehingga hujan sudah mulai turun.

”Kendati tidak deras, kini hujan sudah turun. Semoga saja ini sebagai bertanda musim penghujan akan tiba,” jelasnya.

Sementara itu, Mulyono, salah satu petani dari Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan, mengaku harus memilih tanaman yang tidak memerlukan banyak air untuk ditanam di sawahnya. Mengingat suplai air dari Dam Bendo yang biasanya dimanfaatkannya untuk mengairi sawahnya sangat minim. Dengan demikian, dirinya harus mencari alternatif lain untuk mengairi sawahnya.

“Musim kemarau sungai jadi mengering. Untuk itu biasanya kami mengeluarkan biaya lebih untuk mengoperasikan pompa air,” imbuhnya.(jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia