Minggu, 18 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Rp 200 Juta untuk 77 Kios Pedagang Pasar Pon

Pakai Duit P-APBD, Total 503 Kios Relokasi

Rabu, 12 Sep 2018 15:30 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERIK: Belasan pekerja mengerjakan bagian atap bangunan relokasi di seputaran terminal colt Sumbergedong, kemarin (11/9).

TERIK: Belasan pekerja mengerjakan bagian atap bangunan relokasi di seputaran terminal colt Sumbergedong, kemarin (11/9). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK – Sebanyak 503 kios atau lapak untuk mengakomodasi pedagang Pasar Pon ternyata tidak dibangun dari APBD induk. Sebagian akan dikerjakan menggunakan duit pada  perubahan APBD (P-APBD) tahun ini. Tahap pertama pembangunan sarana relokasi ini akan dibangun sekitar 426 kios atau lapak. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dan Perdagangan (Komindag) Trenggalek Nonot Hermanto.

Dia membenarkan jika pemerintah bakal menyediakan 503 kios atau lapak di lokasi relokasi. Namun, tahap pertama ini akan dibangun sekitar 426 kios. Sisanya, sejumlah 77 kios bakal dikerjakan menggunakan anggaran di perubahan anggaran keuangan tahun ini.

“Anggarannya (pembangunan sisa kios) sekitar Rp 200 juta,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (11/9).

Itu karena sebelumnya, rencana pembangunan Pasar Pon dilakukan dalam dua tahap alias tidak satu tahun anggaran. Akibatnya, konsultan perencana membuat desain perencanaan relokasi untuk sebagian pedagang.

Tahap pertama ini, pihaknya mengklaim progres pembangunan sarana relokasi sudah mencapai lebih dari 30 persen. Buktinya, beberapa los kini tinggal membuat sekat-sekat untuk kios pedagang karena bagian atap sudah rampung.

“Saya itu sebenarnya kasihan dengan pelaksanannya. Mereka harus bekerja lebih ekstra karena peristiwa kebakaran,” jelasnya.

Nonot mengatakan, jika mengacu pada perencanaan awal, kegiatan pembangunan sarana relokasi ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Namun karena peristiwa tersebut, rekanan dituntut secepat mungkin merampungkan pekerjaan tersebut. Yakni sekitar sebulan saja.

Jika dihitung, semenjak keluar surat perintah kerja (SPK) tangal 27 Agustus lalu, berarti sudah ada sekitar dua minggu proses pembangunan sarana relokasi.

“Bisa dibayangkan bagaimana pekerjaan tiga bulan dimampatkan jadi sebulan,” imbuhnya.

Ditanya apakah jadi memanfaatkan bantuan tenaga dari para pedagang, pria ramah ini mengaku untuk sementara belum kelihatan ada bantuan dari para pedagang. Mengingat pelaksana kegiatan sudah berinisiatif menambah tenaga kerja agar kegiatan itu segera selesai.

“Kalau sekarang belum, gak tahu nanti. Mungkin diperlukan saat masang sekat-sekat itu,” tuturnya.

Dari pantauan Koran ini di lapangan, beberapa los relokasi tengah dikerjakan di sisi barat terminal colt Sumbergedong. Belasan pekerja juga terlihat terus beraktivitas.

“Kalau menurut saya tidak usah (bantuan pedagang, Red),” ujar seorang pekerja di sela-sela istirahat siang.

Pihaknya justru khawatir jika tenaga para pedagang tersebut tidak malah membantu, tapi justru membuat pekerjaan kian lama. Pasalnya, mereka jelas tidak terbiasa dengan kegiatan pertukangan dan kayu. Di sisi lain, juga ada rasa sungkan jika para pekerja ini menyuruh-nyuruh pedagang dalam proses pembangunan tersebut.

“Gak usah tenaga, cukup air atau es saja atau camilan apa saja,” kata pria bertopi merah ini lantas tertawa.

Untuk diingat kembali, pagu anggaran pembangunan sarana relokasi ini sekitar Rp 600 juta. Dalam proses pelelangan, kegiatan itu dimenangkan penawaran sekitar Rp 400 juta. Jika pada peruabahan anggaran keuangan nanti dianggarkan kembali untuk penambahan kios atau lapak dengan perkiraan anggaran Rp 200 juta, berarti total kebutuhan relokasi ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 600 juta. (hai/ed/and)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia