Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Olah Biji Cokelat Sendiri, Rumah Cokelat Suparman Jadi Wisata Edukasi

Sabtu, 15 Sep 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

DEDIKATIF: Suparman di samping Tugu Kakao sebagai simbol rumah cokelat, kemarin (14/9).

DEDIKATIF: Suparman di samping Tugu Kakao sebagai simbol rumah cokelat, kemarin (14/9). (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Dibangun sekitar tahun 2010 lalu, rumah cokelat awalnya tidak begitu diketahui. Bahkan karena tidak ada aktivitas berarti, anggaran yang telanjur digelontor pemerintah ini terancam menuai masalah. Itu dulu, kini rumah cokelat tidak hanya menjadi rumah produksi olahan cokelat, tapi juga sebagai wisata edukasi.

AGUS MUHAIMIN

Bangunan bekas UPT dinas pertanian yang berlokasi di Jalan Raya Karang itu terlihat ramai dikunjungi warga. Jika dulu pengunjung memarkir kendaraan di tepian jalan atau di depan halaman warga sekitar, kini telah ada tempat parkir khusus bagi pengunjung. Kendati lokasinya tidak begitu luas.

Secara berkala, rumah cokelat milik pemerintah ini dikunjungi para pelajar. Maklum saja, di sini mereka bisa melihat langsung proses produksi cokelat dari biji buah kakao atau tanaman yang memiliki nama latin Theobroma cacao. Selain itu, warga sekitar yang notabene petani juga tercatat cukup sering hilir mudik mengunjungi ke rumah cokelat ini.

Mereka belajar tentang banyak hal di lokasi itu. Mulai dari pertanian hidroponik hingga cara menanam tanaman palawija yang juga banyak ditanam di lokasi tersebut.

“Kami juga ada tanaman jagung yang besar lho, yakni dua tongkol beratnya ada sekilo,” ujar Suparman, salah seorang petugas yang mengelola rumah cokelat ini, kemarin (14/9).

Perjalanan rumah cokelat yang kini ramai dikunjungi ini tidaklah instan. Ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan pada awalnya. Begitu Suparman memceritakan. Sebagai salah satu contoh, untuk membuat lokasi itu menjadi rindang dengan keberadaan pohon kakao, jelas membutuhkan waktu relatif lama. Menunggu tanaman itu tumbuh dan besar.

Sekitar tahun 2010, ada rencana untuk membuat salah satu tempat yang bisa mengakomodasi kebutuhan warga atau petani kakao di Trenggalek. Sebab, harga jual kakao yang diproduksi petani dinilai telalu kecil jika dibandingkan dengan di pasaran.

“Harganya cuma tembus Rp 9 ribu per kilo. Itu kan terlalu kecil,” kata Suparman

Berangkat dari kondisi ini, Suparman yang seorang lulusan teknis pertanian melihat celah untuk meningkatkan harga tawar petani kakao di kawasan tersebut. Yakni dengan membuat fermentasi biji kakao. Para petani tidak langsung menjual biji kakao, tapi mereka menjualnya setelah biji tersebut dikeringkan. Ada proses tambahan yang harus dilakukan.

“Nah, kalau sudah difermentasi, harganya lebih mahal. Sekarang saja mampu tembus Rp 20 ribu per kilo. Kalau dulu Rp 9 ribu itu hanya impas saja, tidak ada keuntungan bagi petani,” ujarnya.

Suparman mengaku, rumah cokelat ini tidak hanya sebatas tempat untuk menampung hasil penjualan kakao milik masyarakat. Di lokasi ini juga terdapat wahana pengolah produksi kakao itu menjadi cokelat. Dampak lainnya, lokasi itu menjadi jujugan para pelajar yang ingin mengetahui proses membuat cokelat.

“Kami produksi sendiri. Kalau nanti ada kelebihan, biji kakao akan dijual ke luar daerah,” ungkapnya.

Kini, Suparman dan pemerintah mulai memetik hasil jerih payah yang mereka lakukan. Rumah cokelat menjadi ramai, dikenal banyak orang, dan lebih produktif. Jauh sebelum hal itu terjadi, ada banyak tantangan yang harus diselesaikan.

Suparman menjelaskan, dia harus berkali-kali meyakinkan pimpinan bahwa prospek konsep rumah produksi cokelat sekaligus wisata edukasi itu sangat dibutuhkan di kemudian hari.

Tidak hanya sekadar presentasi, Suparman juga harus serius untuk mewujudkan hal itu. Dia menanam pohon kakao. Dipilihnya kakao-kakao berkualitas sehingga tidak hanya memiliki hasil yang melimpah, tapi juga tampilan yang baik, besar-besar.

Lokasinya ditata sedemikian rupa sehingga nantinya bisa mengakomodasi konsep wisata edukasi. Dia juga merancang sebuah tempat untuk berkumpul yang nyaman dan teduh. Di lokasi ini, biasanya ada banyak anak muda yang menghabiskan waktu saat sore hari.

“Dulu sini itu tidak ada aktivitas sama sekali, kalau tidak berfungsi kan bahaya. Dibangun dari anggaran negara tapi tidak ada hasilnya,” kata dia.

Menurutnya, itu karena masih ada keraguan. Namun setelah semua fasilitas dipenuhi dan peralatan dicukupi, rumah cokelat pun bisa dijalankan. Anggaran negara yang sudah digelontorkan tidak menjadi mubazir. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia