Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Lebih Dekat dengan Komunitas Difabel Motorcycle Indonesia Tulungagung

Selasa, 18 Sep 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

KOMPAK: Anggota DMI Tulungagung foto bersama dalam rangkaian touring bareng.

KOMPAK: Anggota DMI Tulungagung foto bersama dalam rangkaian touring bareng. (SUROSO FOR RATU)

Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Kalimat itulah yang tepat menggambarkan para anggota Difabel Motorcycle Indonesia (DMI) Tulungagung. Meski mereka merupakan kaum difabel, tapi memiliki semangat kuat menjalani hidup. Salah satunya terkait hobi otomotif. Memakai motor yang sudah dimodifikasi, para anggota DMI kerap touring ke berbagai kota.

WHENDY GIGIH PERKASA

Sesuai aturan kepolisian khususnya Satuan Lalu Lintas (Satlantas), SIM D diberlakukan untuk para kaum difabel. Termasuk di Kota Marmer. Karena itulah, para penyandang difabilitas, kerap terlihat mendatangi kantor Satuan Pelayanan Administrasi SIM (Satpas) Tulungagung. Mereka mengurus SIM D yang dipakai sebagai kelengkapan berkendara. Selain itu juga sebagai identitas diri selain e-KTP.

Seperti terlihat beberapa hari lalu, beberapa penyandang difabilitas mengurus SIM D. Tentu saja melalui loket khusus yang sudah disediakan pihak kepolisian untuk masyarakat difabel. Ujian teori dan praktik tak luput dijalani.

Salah seorang yang ikut mengurus SIM D adalah Suroso. Warga Desa/Kecamatan Sendang, itu merasa senang adanya fasilitas yang diberikan kepolisian kepada kaum difabel. Terutama dalam hal kepengurusan SIM.

Suroso sudah cukup lama ingin memiliki SIM sama seperti pengendara roda dua lainnya. Sebab, dia memiliki hobi touring alias bepergian jarak jauh. Hebatnya lagi, meski Suroso penyandang difabilitas, dia tetap semangat. Touring pun menggunakan motor kesayangannya yang sudah dimodifikasi. Yakni memakai tiga roda. Satu di depan, dua di samping.

Saat wawancara, Suroso yang merupakan Ketua DMI Tulungagung mengatakan, DMI merupakan komunitas difabel dengan hobi yang sama. Yakni touring menggunakan motor. Tentu saja motor yang dipakai sudah dimodifikasi khusus untuk memudahkan pengendaranya yang notabene penyandang difabilitas.

Dia mengatakan, DMI Tulungagung memiliki sekitar 40 orang anggota. Yang aktif touring jarak jauh sekitar 25 anggota. DMI Tulungagung mulai terbentuk pada 2011 lalu. Sejak saat itu sudah langsung memulai debut untuk touring ke berbagai daerah.

“DMI di tingkat Jatim terbentuk 2011, begitu juga Tulungagung. Saat itu langsung aktif touring,” ungkapnya.

Hingga sekarang, sudah banyak daerah yang dikunjungi. Beberapa di antarannya Surabaya, Malang, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, dan lain sebagainya.

“Paling jauh sementara ini di Klaten, Jawa Tengah,” ujarnya.

Bapak satu anak ini menjelaskan, anggota DMI Tulungagung selalu kompak. Salah satunya ketika motor salah satu anggota rusak di jalan, semua berusaha membantu. Salah satunya rantai motor putus, langsung ditarik teman yang lain.

“Jadi ditarik pakai tambang (tali,Red). Ini sangat berkesan sekali,” jelasnya.

Tidak jarang anggota DMI Tulungagung mengajak anak dan istri ikut touring yang rutin digelar. Paling sering ke daerah Surabaya dan Malang. Selain itu juga menghadiri anniversary DMI di berbagai kota. Berbagai perlengkapan tak lupa dibawa. Beberapa di antaranya perlengkapan kunci ataupun engkol, busi, mantel hujan, makanan, muniman, dan lain sebagainya. 

Selama berkendara, para anggota DMI taat lalu lintas. Salah satunya terkait kondisi motor yang harus benar-benar laik jalan.

Meski sudah dimodifikasi menjadi tiga roda, namun semua perlengkapan seperti lampu utama, sein, klakson, dan lainnya tetap berfungsi normal. Ukuran ban dan velg juga menjaga standar sesuai bawaan pabrik. (*/din)   

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia