Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Mengenal Lebih Dekat Komunitas Tiup Tulungagung (KTT)

Rabu, 19 Sep 2018 11:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

BERSUNGGUH-SUNGGUH: Anggota KTT sedang memainkan alat musik tiup beberapa hari yang lalu.

BERSUNGGUH-SUNGGUH: Anggota KTT sedang memainkan alat musik tiup beberapa hari yang lalu. (SAMUEL FOR RATU)

Pemusik di Kota Marmer memang ada banyak jumlahnya. Namun yang tergabung dalam komunitas tiup Tulungagung (KTT) belum begitu banyak. Mereka konsentrasi pada alat musik tiup.

DHARAKA R. PERDANA

Siapa yang tidak tahu alat musik tiup? Semua orang pasti sudah mengenal alat musik jenis ini. Entah itu seruling, terompet, trombone, dan lain sebagainya. Dapat dikatakan yang paling familier adalah seruling dan terompet.

Kendati demikian, keberadaan KTT seolah menjadi oase bagi mereka yang memiliki minat pada alat musik ini. Meskipun sebenarnya komunitas ini baru seumur jagung, seluruh anggotanya terus berusaha meningkatkan kemampuan. Apalagi semua berkeinginan untuk mengembangkan semua alat musik tiup yang ada dan hidup di masyarakat kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini.

“Komunitas ini sebenarnya masih baru sehingga belum banyak yang bergabung,” kata Samuel Robert Sumual, inisiator KTT kemarin (18/9).

Menurut dia, pembentukan komunitas ini sebenarnya bukan murni dari dirinya. Ada dorongan dari beberapa orang agar dia membentuk komunitas itu untuk menampung animo masyarakat yang ingin belajar hingga menjadi profesional.

“Makanya kini terus latihan intensif, meskipun baru 10 orang yang tergabung,” jelashnya.

Samuel -sapaan akrabnya- melanjutkan, untuk mempelajari musik tiup sebenarnya hampir sama dengan alat musik lain. Namun ada yang berbeda sedikit. Yakni bagaimana cara mempertahankan long tone. Itu semua bisa didapat jika berlatih rutin setiap hari. Meskipun tidak sedang kopi darat (kopdar), latihan juga harus dilakukan di rumah agar kemampuan tidak hilang begitu saja.

“Sama halnya dengan atlet. Kalau tidak berlatih rutin, tentu kemampuannya bisa hilang,” ujarnya.

Dia mengakui, masih banyak hal yang harus dipahami dari alat musik tiup. Karena ada yang menggunakan media kayu maupun brass. Sehingga dalam komunitas, mereka dibebaskan untuk memilih alat musik mana yang akan digunakan.

Dia ingin semua anggota komunitas menjadi seorang profesional di bidang alat musik tiup. Sehingga bisa terjun langsung di berbagai acara untuk unjuk kebolehan.

“Inilah yang saya tekankan pada anak-anak agar terus memaksimalkan potensi yang dimiliki. Bisa saja, suatu hari nanti mereka menjadi seorang pemain musik profesional,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia