Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Diimingi-Imingi Boneka, Tukang Pijat Cabuli Siswi SMP

Rabu, 19 Sep 2018 10:51 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Ilustrasi Pencabulan

Ilustrasi Pencabulan (JawaPos.Com)

TULUNGAGUNG - Miris melihat nasib DM sekarang. Bocah 14 tahun ini sudah menanggung janin berusia tujuh bulan. Lantaran ulah bejat Jarni, 50, warga Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, yang tega mencabuli siswi SMP tersebut.

Pria yang bekerja sebagai tukang pijat tuna netra itu kini mendekam di bui Polres Tulungagung dan dilakukan penyelidikan secara maraton.

“Dapat laporan dari salah satu warga di Kecamatan Kalidawir, Senin (17/9) kemarin sekitar pukul 13.40. Lantas melakukan penyelidikan lebih lanjut dilakukan di kantor unit perlindungan perempuan dan anak (UPPA),” terang Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar, melalui Kasubbag Humas Iptu Sumaji kemarin (18/9).

Dari situ, aksi pencabulan Jarni terungkap setelah ada pihak keluarga korban melaporkan ke polisi karena mengetahui korban telah hamil tujuh bulan.

Saat dimintaiketerangan, korban mengaku pencabulan dilakukan Jarni.

“Semula pada Sabtu (15/9) lalu, kakak korban mengetahui jika adiknya telah hamil. Ketika ditanya mengakui memang hamil,” ungkapnya.

Berdasarkanpengakuanpelaporkepadapolisi, kejadianpencabulan sudah seringdilakukansejaktahun 2012 hingga2018.

“Tidak satu kali, tapi sudah sering dilakukan kepada gadis belia tersebut. Sekitar tiga kali disetubuhi,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, Jarni kemarin ditahan dengan alasan hasil gelar perkara telah memenuhi unsur-unsur di dalam pasal perlindungan anak.

“Karena memenuhi unsur dalam pasal 76 d dan atau pasal 76 e junto pasal 81 ayat 1 dan ayat 2, serta atau pasal 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2002 junto Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” ujarnya.

Selain itu, dari tangan pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa sebuah selimut dan sebuah rok milik korban yang merupakan pemberian dari pelaku.

Menurutdia,pelaku mengakuisemua perbuatan yangdilakukankepada korban. Namunmengelakmelakukan perbuatandisertai dengan ancaman.

“Hanya iming-iming kepada korban akan dibelikan boneka dan baju,” jelasnya.

Itu berbedadengan pengakuan korban kepada polisi. Yakni pelaku pernah mengancam akan memberitahukankepadakakaknya jikamenolakdicabuli.

“Korban mengaku dicabuli tidak sekali, melainkan sejak duduk di SD hingga SMP,” ungkapnya. (yon/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia