Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Dihantam Mobil, Kepala Santri Pecah

Rabu, 19 Sep 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Ilustrasi Korban Kecelakaan

Ilustrasi Korban Kecelakaan (JawaPos.Com)

TULUNGAGUNG - Nasib nahas menimpa Budi Santoso, warga Desa Sukamukti, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komeiring Ilir, Sumatra Selatan, yang juga seorang santri pondok pesantren (ponpes) di Kota Marmer. Dia tewas mengenaskan ketika hendak berangkat menuju kampus sekitar pukul 07.30 kemarin (18/9).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Tulungagung, santri yang juga mahasiswa semester satu di IAIN Tulungagung itu meregang nyawa setelah motor yang dikendarainya dengan nomor polisi (nopol) AG 2470 RAG, terlibat kecelakaan dengan mobil Honda Jazz dengan nopol AG 1101 RR.

Kanit Laka Polres Tulungagung Ipda Dion Fitrianto mengatakan, kecelakaan sempat membuat jalan raya Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut, terhenti selama evakuasi korban berlangsung.

“Tubuh korban berada di tengah-tengah jalan dan mengalami luka serius di kepalanya,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kecelakaan itu melibatkan dua kendaraan. Yakni motor yang dikendarai Budi Santoso, 18, dengan mobil Honda Jazz yang dikemudikan Dadi Winarno, 47, warga Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung.

“Tabrakan dari arahberlawanan,”jelasnya.

Dia menjelaskan jika kronologi kejadian bermula saat Budi Santoso melaju dari timur menuju barat. Sedangkan mobil Dadi berjalan berlawanan.

“Diduga korban tidak begitu memperhatikan laju di depannya,” tandasnya.

Dengan begitu, korban diduga ketahui bersenggolan dengan kendaraan di depannya dan kemudian oleng hingga terjatuh ke arah kanan jalan. Di saat bersamaan, mobil Jazz melaju dari arah berlawanan langsung menghantam motor yang dikendarai korban.

Tak pelak, korban tewas di lokasi kejadian dengan luka parah dibagiankepala.

“Korban mengalami luka yang serius di kepalanya sampai pecah. Untuk sopir mobil Jazz tidak mengalami luka sama sekali,” ungkapnya.

Sementaraitu,salahseorang wargasekitar, Juriahmengakutidakmengetahuisecara pasti kecelakaan itu. Sebab, saat kejadian dirinya masihberadajauhdarilokasi peristiwa.Namun,setelahdekat denganlokasi kecelakaan, orangyang melihat sudah membeludak.

“Saya sampai di lokasi kejadian sudah banyak yang datang. Semua kendaraan berhenti karena belum dievakuasi petugas,” ungkapnya.

Dia menyatakan, jalur itu sering menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas. Lantaran kondisi jalan yang halus, tapi sempit.

“Karena jalan halus, banyak yang ngebut-ngebut. Di 2018 ini, di lokasi sudah ada dua nyawa melayang,” ungkapnya. (yon/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia