Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Pendidikan

Aksi Protes Meluas Terkait Persyaratan Rekrutmen CPNS

21 September 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERTIB: Ratusan honorer di Kecamatan Kauman, menggelar aksi damai yang dilakukan di halaman Taman Ketandan, kemarin (20/9).

TERTIB: Ratusan honorer di Kecamatan Kauman, menggelar aksi damai yang dilakukan di halaman Taman Ketandan, kemarin (20/9). (AGUS DWIYONO/RATU)

TULUNGAGUNG - Aksi protes terkait persyaratan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) maksimal berusia 35 tahun terus meluas di daerah. Ratusan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) atau honorer se-Kecamatan Kauman turun jalan di Taman Ketandan, Desa Sidorejo, kecamatan setempat, kemarin (20/9) sekitar pukul 07.00.

Mereka demonstrasi dengan membawa dan membentangkan puluhan poster dan baliho berisi tulisan penolakan maupun keluhan nasib kepada pemerintah.

Selain itu, ratusan honorer sambil jalan menyanyikan lagu Indonesia Raya saat mengelilingi lokasi sekitar Taman Ketanden.

“Tadi berkumpul sejak pagi. Setiap peserta menuju Taman Ketandan. Selanjutnya tanda tangan di kain putih sepanjang tiga meter terkait penolakan rencana rekrutmen CPNS, lantas long march,” jelas koordinator aksi Riyan Dedi Prayetno.

Guru honorer di SDN 1 Bolorejo itu menjelaskan, langkah turun jalan merupakan bentuk aksi protes terhadap kebijakan pemerintah tentang adanya proses dan syarat penerimaan CPNS 2018 yang dimulai sekitar Mei mendatang.

Menurutdia,dalampersyaratan itudisebutkan bahwa maksimal umur yang bolehikut yakni 35 tahun. Itu diatur dalam PeraturanMenteri PemberdayaanAparaturNegara dan Reformasi (MenPAN-RB)Nomor36 Tahun2018, yang mengatur syaratadministrasibagi tenaga pendidikdankesehatanyang berusiamaksimal35tahun pada1 Agustus2018.

“Di Kecamatan Kauman ini, banyak honorer berusia di atas 35 tahun. Padahal mereka sudah puluhan tahun mengabdi,” ungkapnya.

Dia mengaku, peserta aksi protes sekitar 200 orang. Terdiri dari honorer di sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Kauman. “Aksi serupa akan terus kami lakukan. Bahkan, sesuai dengan rencana, setelah koordinasi dengan kecamatan lain, nanti akan menggelar protes honorer seluruh Tulungagung,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu peserta aksi mengaku, lebih dari 11 tahun mengajar di sekolah. Dengan kebijakan pemerintah tersebut, sangat memberatkan honorer.

“Padahal, kami sudah mendidik mereka belasan tahun,” ungkap HB sambil meminta nama disamarkan.

Wanita 49 tahun itu menjelaskan, denganadanya aksi protes, pembelajaran disekolah sebagian besar lumpuhtotal.Sebab, dalam satu sekolah, PNShanyasatuatau dua.

“Anak-anak tetap masuk, tapi tidak ada yang mengajar. Guru honorer semua ikut aksi di sini,” jelasnya.

Di beberapa sekolah ada pembelajaran, tapi tidak maksimal. Sebab, guru kelas ikut aksi damai dan diajarkan oleh guru PNS.

“Hanya guru PNS yang mengajar. Coba kami tidak mengajar beberapa jam. Jika satu bulan kami tidak mengajar untuk mencari nafkah lain, pasti dunia pendidikan lumpuh total,” ungkapnya.

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia