Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Hina di Medsos, Seorang GTT Dibina

Jumat, 21 Sep 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

MENYESAL: Pelaku ketika mediasi dengan PCNU Trenggalak, polisi, dan berbagai pihak terkait.

MENYESAL: Pelaku ketika mediasi dengan PCNU Trenggalak, polisi, dan berbagai pihak terkait. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Selalu bijak dalam menggunakan media sosial (medsos). Mungkin itu yang harus dilakukan oleh masyarakat Kota Keripik Tempe dan sekitarnya. Jika tidak akan mengalami seperti AHP , warga Kecamatan Panggul ini. Dia  terpaksa diamankan polisi karena diduga melecehkan organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, kemarin (20/9) dilakukan mediasi antara pelaku dengan PCNU Trenggalek untuk menyelesaikan masalah lewat jalur kekeluargaan.

Berdasakan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek, peristiwa itu diketahui Rabu (19/9) kemarin. Saat itu, di salah satu kolom komentar, akun medsos milik pelaku memberikan tanggapan. Namun tanggapan itu dinilai tak pantas karena mengandung unsur SARA dan bahasa jorok untuk organisasi NU. Apalagi, pelaku merupakan seorang guru yang notabene memberi contoh yang baik.

”Melihat itu, kami sangat tersinggung. Bukan secara organisasi lagi, melainkan secara keumatan,” ungkap Ketua PCNU Trenggalek KH Fatchulloh Sholeh.

Lanjut pria yang akrab disapa Gus Loh ini. Untuk itu, pihaknya bersama polisi berkoordinasi untuk mencari tahu keberadaan yang bersangkutan. Setelah berhasil ditemukan, maka langsung dilakukan interograsi terhadap yang bersangkutan terkait siapa yang menyuruh berkata seperti itu.

”Dari situ kami putuskan untuk membina pelaku. Dikhawatirkan proses hukum tak akan menyelesaikan masalah,” katanya.

Setelah dilakukan pendalaman, terungkap jika perkataan yang dituliskan tidak sekadar perkataan jorok, melainkan ada unsur paham radikalisme. Yang bersangkutan sering melakukan diskusi lewat medsos tentang paham-paham yang diajarkan tentunya sangat berlawanan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, pelaku telah sepakat agar mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh PCNU Trenggalek. Jika melanggar, baru diproses secara hukum.

”Secara sadar, pelaku mau menuruti dan menerima pembinaan yang kami sebut sebagai ngaji kebangsaan. Jadi setiap satu minggu sekali dia harus datang ke sini (kantor PCNU Trenggalek, Red),” jelas Gus Loh

Senada juga diungkapkan oleh Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibawa Saputra. Dia menambahkan, perkataan lewat medsos tersebut memang tidak sepatutnya diucapkan apalagi oleh seorang guru tidak tetap (GTT). Hal itu bisa berdampak pada terganggunya kondisi kamtibmas. Untuk menyelesaikannya, dilakukan pertemuan sejumlah pihak agar diambil keputusan yang tepat.

”Itu kami minta kepada semua pihak tak terkecuali, agar permasalahan ini menjadi pembelajaran. Mari bersama-sama tingkatkan keamanan dan jaga kondusivitas,” imbuhnya.

Sementara itu, pelaku AHP, mengaku menyesal akibat perbuatannya tersebut. Sedangkan terkait tujuannya, sebenarnya tidak ada niat untuk melecehkan suatu organisasi keagamaan. Melainkan hanya memberi tanggapan terkait status dalam medsos.

”Saya menyesal melakukan hal ini dan siap menanggung segala risiko, termasuk seminggu satu kali datang ke kantor PCNU Trenggalek untuk pembinaan,” tuturnya. 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia