Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Stok Obat Awal Tahun Terancam Kosong

04 Oktober 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

MASIH AMAN: Seorang asisten apoteker menata obat di gudang farmasi Puskesmas Kedungwaru kemarin (3/10).

MASIH AMAN: Seorang asisten apoteker menata obat di gudang farmasi Puskesmas Kedungwaru kemarin (3/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Ketersediaan beberapa jenis obat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung tidak sepenuhnya lancar. Indikasinya, ada keterlambatan obat dari produsen selaku penyedia. Dampaknya, stok obat awal tahun terancam kosong sehingga berpotensi mengganggu pelayanan kesehatan.

Pihak dinkes tidak menampik sempat terjadi keterlambatan sejumlah stok obat. Keterlambatan stok ini diduga berasal dari penyedianya. Sebab, dinkes sudah melakukan percassing (pengajuan pengadaan obat atau barang) melalui sistem e-katalog sejak lama.

“Kemarin sempat terlambat karena salah satu penyedia (produsen) obat tidak mampu menyediakan obat saat sudah melewati closing date,” jelas Kasi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan Dinkes Tulungagung Masduki kemarin (3/10).

Masduki mengatakan, beberapa item obat yang tidak mampu disediakan penyedia di antaranya metronidazol 500mg, ibuprofen 200 mg, ibuprofen 400mg, dan amoxicillin sirup. Meski tidak sampai mengganggu layanan medis publik, diprediksi berdampak pada stok awal tahun yang kosong.

“Untuk sementara tidak menganggu pelayanan, tapi untuk awal tahun depan bisa kehabisan stok,” katanya.

Agar tak terjadi permasalahan yang sama, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada Kementerian Kesehatan dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Meski mengalami keterlambatan, Masduki memastikan bahwa ketersediaan obat yang ada masih cukup untuk memenuhi kebutuhan. Itu termasuk pasokan dari hasil pengadaan di tingkat dinkes yang didistribusikan ke puskesmas.

Pria ramah ini menambahkan, untuk ketersediaan obat diperlukan tata kelola yang baik dan berkelanjutan. Terutama obat-obat yang seringkali dibutuhkan masyarakat (fast moving). Seperti amoxisillin, parasetamol, asam mefanamat, dan ibuprofen. Sebab, masa berlaku obat hanya bertahan selama dua tahun. Sedangkan pendistribusian obat memakan waktu yang tidak sebentar. “

Saat obat dalam proses distribusi, stok berikutnya harus sudah ada. Sehingga rantainya tidak putus,” jelasnya.

Ika Fatmawati, asisten apoteker Puskesmas Kedungwaru mengatakan, ketersediaan obat di Puskesmas Kedungwaru kini relatif aman. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat juga berjalan dengan baik.

“Kemarin parasetamol sempat sedikit terlambat. Tapi sekarang aman,” ujarnya.

Parasetamol, lanjut wanita ramah itu, menjadi salah satu obat yang paling sering dicari masyarakat. Terutama saat pergantian musim karena rawan terserang penyakit seperti flu dan batuk.

“Dalam sehari kurang lebih 200 biji parasetamol bisa keluar,” pungkasnya. (nda/ed/wen)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia