Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Blitar

Dipilah, Lalu Diinsenerasi Dalam Tangani Limbah Medis

Jumat, 05 Oct 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

CEGAH PENCEMARAN: Petugas menutup pintu insenerator di rumah incenerator RSUD dr Iskak. Insenerator alat untuk membakar dalam suhu tinggi.

CEGAH PENCEMARAN: Petugas menutup pintu insenerator di rumah incenerator RSUD dr Iskak. Insenerator alat untuk membakar dalam suhu tinggi. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Menangani limbah medis tentu berbeda dengan limbah sampah lain. Terdapat perlakukan khusus agar limbah-limbah medis itu tidak menimbulkan masalah. Terutama dampak bagi kesehatan dan lingkungan.

Sampah-sampah medis ini nantinya dikumpulkan, kemudian dipilah menjadi tiga golongan. Golongan A untuk botol infus dan botol kaca. Golongan B untuk perban, kapas, selang infus, dan sisa potongan organ tubuh. Serta golongan C untuk barang bersifat tajam seperti jarum suntik dan pinset.

“Limbah ini akan dipilah, ada limbah medis tajam, limbah medis nontajam, botol infus. Karena perlakuannya beda-beda,” jelas Rudi Yusep Prastowo, Kasi Pelayanan Penunjang Nonmedis RSUD dr Iskak.

 Lanjut dia, sampah-sampah seperti bekas botol infus dan jeriken bekas cairan hemodialisis akan diperlakukan khusus dengan proses disinfeksi. Setelah disinfeksi, sampah-sampah ini akan dicacah dan dipotong. “Yang dilakukan disinfeksi hanya botol infus dan jeriken bekas cairan hemodialisis. Jadi nanti dicacah dan dilakukan proses disinfeksi,” tambahnya.

Sedangkan penanganan, untuk limbah medis tajam dan nontajam akan dimusnahkan dengan cara yang sama. Yakni dilebur dalam insenerasi atau pembakaran dengan suhu tinggi. Limbah medis tajam yang dimaksud adalah bekas jarum suntik, kaca preparat, dan pinset. Sedangkan limbah medis nontajam adalah perban, kapas, selang infus, dan sarung tangan.

 Untuk itu, sampah-sampah ini nanti akan dilebur dalam insenerator. Insenerator merupakan alat pembakar sampah yang dioperasikan dengan teknologi pembakaran pada suhu tertentu. Sehingga sampah dapat terbakar habis dan menjadi abu. “Sampah-sampah ini akan dibakar dengan suhu kurang lebih 1200 derajat Celsius sehingga menjadi abu,” ujar Rudi.

Pria ramah ini melanjutkan, jika sampah-sampah ini menjadi abu, akan dimasukkan ke dalam sebuah drum dan disimpan rapat. Nantinya akan dikirimkan pada PT PPLI. Dalam sehari, limbah medis yang dihasilkan sebanyak 200 kilogram (kg). Dan 170 kg di antaranya diolah dengan cara dibakar. Sehingga proses insenarator dilakukan dua kali sehari. 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia