Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon-featured
Features
Saat Bentrokan Antara Kelompok Pemuda Terjadi

Penuturan Warga Sempat Merasa Takut Salat Subuh Jamaah di Musala

Senin, 08 Oct 2018 20:48 | editor : Didin Cahya FS

MULAI TENANG: Purwanto saat ngobrol dengan Abu Yahmin, kades setempat di depan rumahnya, Senin (8/10).

MULAI TENANG: Purwanto saat ngobrol dengan Abu Yahmin, kades setempat di depan rumahnya, Senin (8/10). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Siapapun menginginkan kehidupan bermasyarakat yang aman dan tenteram. Namun warga Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, harus sempat berhadapan dengan kondisi mencekam. Mengingat desa mereka sempat menjadi medan bentrokan kelompok pemuda.

DHARAKA R. PERDANA

Suasana khas pedesaan yang penuh ketenteraman begitu terasa di desa yang tidak jauh dari perbatasan dengan Trenggalek itu. Kondisi ini tentunya berbalik 180 derajat ketika pada Minggu (7/10) dini hari terjadi bentrokan kelompok pemuda. Bahkan hal tersebut membuat warga ketakutan untuk beraktivitas.

Ditemani Kades Suruhan Lor, Abu Yahmin, Koran ini menuju kediaman Purwanto. Ya, rumah pria paro baya ini termasuk yang rusak paling parah. Kaca bagian depan rumahnya banyak yang berlubang, bahkan pintu toko peracangan miliknya juga mengalami hal serupa. “Saat kejadian kami sangat kaget saat mendengar suara ribut dari luar. Saat itu semua penghuni rumah masih terlelap tidur,” katanya memulai obrolan.

Saat itu, Purwanto sekeluarga takut para pemuda tersebut berbuat lebih buruk. Apalagi mereka merusak pintu toko yang sehari-hari menjadi sumber mata pencaharian dari barang dagangan. “Lebih takut lagi kalau mereka sampai memecahkan botol berisi bensin. Tentu bisa timbul kebakaran jika tersulut api,” tandasnya.

Selang beberapa menit keributan pun berlalu. Namun mereka masih diliputi ketakutan. Bahkan mereka pun takut untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah di musala yang hanya beberapa langkah dari rumah. Apalagi musala tersebut juga sempat menjadi sasaran pelemparan batu yang membuat kacanya pecah berhamburan.

Hingga akhirnya mereka bisa bernafas lega lantaran marabahaya sudah berlalu. Mereka pun langsung berinisiatif untuk memperbaiki segala kerusakan yang ditimbulkan pascakeributan. Bahkan untuk pengaman sementara, toko tersebut hanya ditutupi anyaman bambu. “Kami memang sangat takut saat kejadian,” sambung Suriyah, istri Purwanto.

Kendati kondisi sudah kondusif, kekhawatiran pasangan suami istri ini belum mereda. Di benak mereka masih terbayang peristiwa serupa bakal terulang lagi. Sehingga proses perbaikan bisa menjadi muspra jika ada keributan lagi. “Semoga tidak ada lagi peristiwa serupa. Karena bisa merugikan masyarakat banyak,” pungkasnya. 

(rt/rak/did/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia