Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Remaja Pengguna Obat Painkiller Meningkat

Selasa, 09 Oct 2018 11:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

Grafis Seputar Obat Painkiller

Grafis Seputar Obat Painkiller (HENDRA NOVIAS/RATU)

TULUNGAGUNG – Masa remaja menjadi masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Wajar jika pada masa itu, sejumlah remaja mengalami perubahan perilaku dan muncul pergolakan sikap. Pergolakan ini dipengaruhi banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.

Tentu saja hal-hal itu akan mempengaruhi remaja dalam memecahkan masalah menjadi lebih buruk.

Ketidakmampuan dalam memecahkan masalah, membuat tak sedikit remaja mencoba meracuni dirinya dengan menggunakan obat painkiller atau obat penghilang rasa sakit dan antidepresan.

Kasi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Masduki menjelaskan, kasus penyalahgunaan obat di kalangan remaja mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Dia mengaku, dalam rentan waktu seminggu, menerima sedikitnya empat kasus penyalahgunaan obat di kalangan remaja. Itu menjadi bukti dari krisis kesehatan mental remaja menjadi masalah serius.

“Kasusnya seperti fenomena gunung es, yang tercatat tidak sebanding dengan yang ada di lapangan,” jelasnya Senin (8/10).

Faktor lingkungan menjadi penyebab utama remaja yang mencoba menggunakan obat-obat antidepresan. Kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua membuat anak kehilangan figur. Sehingga tak jarang anak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat. Peran orang tua dalam melakukan pendampingan sangat penting. Terlebih ketika masa remaja.

“Rata-rata kasus penyalahgunaan obat di kalangan remaja dilakukan usia 13 hingga 17 tahun. Dan rata-rata mereka tidak mendapat asuhan yang baik dari orang tua,” tandasnya.

Memang penggunaan obat penghilang rasa sakit pada dasarnya diperbolehkan jika untuk kebutuhan medis. Namun menjadi masalah jika disalahgunakan. Pasalnya dapat menimbulkan masalah dalam kesehatan, seperti membuat ketergantungan dan masalah kesehatan lain.

Painkiller merupakan obat untuk mengurangi sampai penghilang rasa sakit. Jika dikonsumsi secara terus menerus dan dalam dosis tinggi dapat menimbulkan ketergantungan.

“Painkiller memang dalam medis digunakan, misal untuk ibu hamil saat akan operasi caesar. Yang menjadi masalah saat obat-obat ini digunakan tidak sesuai seharusnya,” jelasnya.

Salah satu alasan remaja memutuskan menggunakan painkiller, lantaran mampu memberikan sensasi untuk menaikkan mood. Sehingga dinilai mampu menghilangkan stres untuk sesaat.

Jika sudah demikian, maka menimbulkan dampak adiktif. Seperti gelisah, dan turunnya nafsu makan secara drastis.

Dia mencontohkan, dalam beberapa kasus, seringkali remaja meracuni dirinya dengan menggunakan obat batuk sirup dalam dosis tinggi. Untuk itu, pada orang tua agar lebih aware dan peduli dengan perkembangan anak. Terutama jika memasuki usia remaja dan menemukan perubahan perilaku yang cukup ekstrem.

“Awalnya anak hanya coba-coba saja karena stres tidak dapat menyelesaikan masalah, orang tua tidak peduli. Ini yang harus dihentikan,”tandasnya. 

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia