Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Bikin Jamu Untuk Kawula Muda, Syeftyan dan M.Hasan Sabet Juara 3 FIKSI

Selasa, 09 Oct 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

INOVASI WIRAUSAHA : Syeftyan (kiri) dan M. Hasan menujukan medali yang diperolehnya ketika mengikuti FIKSI tingkat nasional bersama Kepala SMAN 2 Trenggalek.

INOVASI WIRAUSAHA : Syeftyan (kiri) dan M. Hasan menujukan medali yang diperolehnya ketika mengikuti FIKSI tingkat nasional bersama Kepala SMAN 2 Trenggalek. (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

Jamu. Pasti mayoritas masyarakat menanggap ramuan alami dari tumbuhan dan lainnya yang berasa pahit. Karena pahit, hampir dipastikan hanya orang tua yang biasa meminumnya. Namun jamu yang disajikan Syeftyan Muhammad Ali Hamami dan M. Hasan Dewa Kalimantana Chomsi, berbeda. Jamu mereka beda dengan jamu umumnya. Berkat  ini mereka meraih juara tiga pada Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) tingkat Nasional 2018.

ZAKI JAZAI

Senin (1/10) sampai Sabtu (6/10) lalu, mungkin pengalaman yang tidak bisa dilupakan Syeftyan Muhammad Ali Hamami dan M. Hasan Dewa Kalimantana Chomsi. Sebab, jerih payahnya membuat produk yang diberi nama meraih asa bersama vitas, mampu mengharumkan Trenggalek di hadapan puluhan peserta dari luar daerah lainnya pada FIKSI tingkat nasional.

Tak ayal, rasa senang dan bangga masih terpancarnya ketika Jawa Pos Radar Trenggalek menemuinya di SMAN 2 Trenggalek, tempat mereka menuntut ilmu kemarin (8/10). Kala itu jam istirahat, terlihat kedua siswa kelas XII tersebut sedang di ruang tamu sekolah. Mereka menunggu guru pendamping untuk konsultasi terkait hasil event tersebut.

“Mungkin kami sempat dipandang sebelah mata ketika mengikuti event itu, tapi syukurlah anggapan tersebut bisa dipatahkan dengan prestasi seperti ini,” ungkap Syeftyan Muhammad Ali Hamami, kepada Koran ini.

Bukan perkara mudah untuk berprestasi pada event tersebut. Sebab butuh persiapan matang mengikuti babak final yang diselenggarakan di Jogjakarta. Terlihat semenjak pendaftaran dimulai sekitar Juli lalu, mereka berdiskusi dan mencari inovasi khususnya tentang pengolahan makanan yang siap dijual untuk mengikuti event itu. Setelah berkonsultasi, hingga membaca berbagai buku yang ada, mereka memutuskan membuat jamu dari tumbuhan beluntas.

“Kami memilih beluntas karena tumbuhan ini mudah ditemukan, selain itu juga sangat bermanfaat jika dikonsumsi,” katanya.

Beluntas bisa mengurangi bau tubuh jika dikonsumsi. Namun dari situ masalah muncul,  jika dicuci, direbus dan diperas seperti jamu pada umumnya, hampir dipastikan kawula muda jarang ada menyukainya. Mengingat, jamu telah familiar dengan rasanya pahit. Dari situlah mereka mencoba berinovasi, membuat jamu beluntas, menjadi minuman semacam teh dengan mencampurkan beberapa bahan alami seperti sedikit gula pasir, lemon, sere dan daun mint.

Tahap pertama daun beluntas yang baru saja dipetik kemudian dicuci bersih dan ditiriskan untuk dimasukan ke oven. Dalam pemasukan oven sendiri dilakukan sekitar 40 menit, hingga warna beluntas berubah menjadi kuning keemasan. Setelah proses pengovenan selesai, beluntas kering tersebut direbus, dan dicampur dengan beberapa bahan yang disediakan. Penambahan bahan tersebut diperlukan untuk menambah rasa manis pada minuman, membuat minuman lebih segar, hingga menghilangkan bahu beluntas.

“Setelah mencoba membuatnya, kami langsung mencobanya sendiri dan mengirimkan hasil itu untuk proses seleksi,” tutur remaja Desa Melis, Kecamatan Gandusari ini.

Hasan Dewa Kalimantana Chomsi menambahkan cerita Syeftyan. Dia mengatakan, ternyata perjuangan tersebut tidak sia-sia. Buktinya akhir Agustus lalu terpilih masuk nominasi pada babak final. Berbagai persiapan terus dilakukan agar bisa menjadi yang terbaik pada babak final yang diselenggarakan di salah satu hotel wilayah Jogjakarta tersebut.

“Dalam persiapan satu bulan, kami belajar bagaimana cara mempresentasikan inovasi ini, juga menyempurnakannya,” imbuh Hasan Dewa Kalimantana Chomsi.

Karena persiapan yang matang itulah membuat mereka yakin untuk mengikuti babak final tersebut. Dan mampu meraih juara tiga. Kendati demikian, pencapaian tersebut bukan akhir segalanya, mengingat harus ada kelanjutan setelah mengikuti event tersebut. Untuk itu kini pemuda asal Desa/ Kecamatan Dongko bersama temannya tersebut mencoba mematenkan produknya. Tujuannya, agar bisa diproduksi masal, sebagai langkah awal untuk usaha.

“Setiap perkembangan akan terus dipantau, dan jika berhasil tahun depan kami akan mengikuti event tersebut, namun bukan sebagai peserta melainkan panitia,” jelasnya. (and)

(rt/zak/ang/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia