Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Dua Pelaku Pencabulan Terancam Bui 15 Tahun

Rabu, 10 Oct 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

KAPOK: Jarni (pakai kacamata) dan Joko Dwi Susanto saat rilis pers di Polres Tulungagung, kemarin (9/10).

KAPOK: Jarni (pakai kacamata) dan Joko Dwi Susanto saat rilis pers di Polres Tulungagung, kemarin (9/10). (AGUS DWIYONO/ RATU)

TULUNGAGUNG - Dua tersangka pelaku pencabulan, Jarni, 50, warga Desa Karang Talun, Kecamatan Kalidawir dan Joko Dwi Susanto, 52, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, bakal meringkuk di bui bertahun-tahun. Lantaran hasil penyidikan polisi terhadap mereka, telah memenuhi unsur perbuatan tidak pidana kepada anak di bawah umur.  

“Mereka (pelaku, Red) didakwa pasal 76 d dan atau pasal 76 e junto pasal 81 ayat 1 dan ayat 2, dan atau pasal 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2002 junto Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman mereka 15 tahun penjara,” terang Wakapolres Tulungagung Kompol Andik Gunawan, saat rilis pers kemarin (9/10).

Berdasarkan data yang dihimpun Jawa Pos Radar Tulungagung, dua tersangka tersebut dari kasus berbeda. Jarni tega mencabuli gadis berusia 14 tahun hingga hamil, yang terungkap pada Senin (17/9) lalu. Sedangkan kejahatan Joko Dwi Susanto, terungkap pada Senin (1/10) lalu setelah tega mencabuli bocah sembilan tahun dan masih kelas IV SD.

Barang bukti aksi bejat mereka yakni baju korban dan tersangka. “Tersangka ini masih memiliki hubungan dekat dengan para korban,” jelasnya.

Menurut dia, pencabulan Jarni terungkap lantaran kakak tiri korban curiga ketika mengalami bunting sekitar tujuh bulan. “Pada Sabtu (15/9) lalu, keluarga korban tahu jika korban sudah mengandung janin. Saat korban didesak mengatakan pelaku pencabulan, akhirnya mengaku,” jelasnya.

Dari situ, polisi menyelidiki dan didapatkan bukti kuat. Lalu membawa pelaku ke Mapolres Tulungagung. “Aksi tersangka Joko Dwi Susanto terungkap saat korban curhat kepada teman kelasnya melalui surat,” ujarnya.

Surat yang ditunjukkan kepada teman sebangku korban sampai di tangan guru kelasnya. Lantas guru memanggil korban dan mengajukan beberapa pertanyaan. Korban pun mengaku. Guru kelas langsung memanggil orang tua korban dan menceritakan kejadian tersebut. “Karena tidak terima dengan perlakuan tersangka, orang tua korban melaporkan kepada pihak kepolisian dan tak berselang lama menangkap pelaku,” jelasnya.

Modus tersangka mencabuli korban. Dengan cara mengajak korban membeli es tebu dan roti. Setelah itu, diajak ke rumahnya dan selanjutnya melampiaskan nafsu kepada korban. (yon/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia