Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Belajar dari Suami, Silvia Mardiana Pelajari Simpul Tali Buat Macrame

10 Oktober 2018, 13: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

TELATEN : Silvia Mardiana tidak memakai alat khusus untuk membuat macrame

TELATEN : Silvia Mardiana tidak memakai alat khusus untuk membuat macrame (WHENDY GIGIH PERKASA/RATU)

Ketelatenan dan kesabaran dalam mempelajari berbagai simpul tali-temali, membuat Silvia Mardiana punya kesibukan baru. Warga Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, ini akhirnya menekuni kerajinan macrame. Yakni kerajinan merangkai tali menjadi berbagai bentuk.

WHENDY GIGIH PERKASA

Bagi sebagian orang, kerajinan macrame masih terdengar asing. Namun setelah mengetahui, tidak sedikit yang lebih senang menyebut dengan kerajinan tali-temali. Itu tidak salah. Sebab, macramé merupakan kerajinan yang mengandalkan berbagai simpul tali.

CANTIK : Salah satu hasil karya Silvia berupa kalung

CANTIK : Salah satu hasil karya Silvia berupa kalung

Namun, tidak semua orang bisa membuat kerajinan macrame. Maklum, wajib telaten dan sabar. Terlebih ketika kerumitan semakin tinggi. Itu berhasil dilalui Silvia Mardiana. Dia sukses membuat kerajinan macrame dengan berbagai bentuk.

Saat wawancara kemarin (9/10), akhirnya diketahui ternyata keahlian membuat macrame diperoleh dari suami. Suami cukup lama ikut kegiatan Pramuka. Terutama saat usia sekolah. Dalam kepramukaan itulah, mempelajari tentang berbagai simpul tali.

Sebelumnya, Silvia sudah tekun membuat kerajinan. Seperti merajut, yang notabene sama-sama menggunakan benang. Namun karena banyak benang yang terbuang untuk merajut, akhirnya memutuskan belajar tali-temali yang kemudian menjadi macrame. Karena hanya mengandalkan teknik tali-temali, membuat macrame tak perlu peralatan khusus.

Beberapa simpul tali yang biasa digunakan yakni kepala, simpul mati, simpul tinggal, simpul ganda, dan lain sebagainya. Tidak jarang perajin macrame membuat inovasi sendiri demi menghasilkan bentuk lain. “Jadi murni teknik tali-temali yang kemudian diubah menjadi kerajinan,” ujarnya.

Ada beragam bentuk kerajinan macrame yang bisa dibuat. Di antaranya kalung, gelang, gantungan kunci, tas, wall hanging, dan lain sebagainya. Rata-rata, Silvia menjual mulai Rp 5 ribu per buah hingga ratusan ribu. Tentu saja itu tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Keunikan bentuk dari kerajinan macrame membuat daya tarik tersendiri. Salah satunya peminat gelang, kalung, dan tas, mulai usia remaja sampai dewasa. Sedangkan wall hanging, biasanya pesanan untuk dekorasi ruangan atau fotografer. “Untuk membuat kerajinan ini, butuh waktu rata-rata satu bulan. Itu tergantung antrean pesanan dan tingkat kerumitan,” jelasnya.

Terkait kesulitan membuat macrame, wanita berhijab itu mengaku tidak semua orang bisa. Kebanyakan karena tidak telaten. Salah satu yang dibutuhkan yakni kesabaran.

Untuk bahan yang dipakai, yakni benang nilon, poli, satin, tali kur, dan lain sebagainya. Benang itu cukup mudah diperoleh di toko-toko kain dan perlengkapan jahit.

Dia berharap, ke depannya bisa memiliki gerai atau toko sendiri. Dengan begitu, kerajinannya bisa semakin dikenal. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia