Selasa, 18 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Sempat Cedera Lutut,Leefrand Lolos Jadi Peserta Junior NBA di Tiongkok

11 Oktober 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

GEMILANG: Leefrand Happy Hermanto menunjukkan medali yang diperolehnya saat mengikut Junior NBA National Training Camp 2018.

GEMILANG: Leefrand Happy Hermanto menunjukkan medali yang diperolehnya saat mengikut Junior NBA National Training Camp 2018. (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

Dunia basket sudah digeluti Leefrand Happy Hermanto sejak kelas VI SD. Berkat keuletannya berlatih, warga Jalan Teuku Umar nomor 88, Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung, ini raih sejumlah prestasi. Salah satunya berhasil mengikuti Junior NBA National Training Camp 2018 di Tiongkok.

ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI

Sejumlah siswa tampak sedang asyik bermain basket di lapangan. Sedang yang lain duduk-duduk di taman sekolah. Tak lama, seorang siswa laki-laki berpostur tinggi menghampiri Jawa Pos Radar Tulungagung.

“Maaf nunggu lama, baru jam istirahat,” ucap Leefrand Happy Hermanto ramah ketika ditemui di sekolahnya, kemarin (10/10).

Mengenakan seragam kotak-kotak merah, sekilas Leefrand -sapaan akrabnya- seperti remaja pada umumnya. Namun, siapa sangka siswa kelas IX SMPN 3 Tulungagung ini baru saja menorehkan prestasi membanggakan. Terutama dalam olahraga basket. Belum lama ini dirinya mengikuti Junior NBA National Training Camp 2018 di Tiongkok bersama dengan 15 anak lainnya yang mewakili Indonesia. Pelatihan yang diadakan National Basketball Association (NBA) ini dalam rangka menjaring pemain basket berbakat. Sebanyak 16 pemain basket terbaik dari Indonesia dapat kesempatan untuk ikut pelatihan dan pertandingan di Tiongkok selama empat hari. Mulai 4-8 Oktober 2018.

Pelatihan diikuti oleh enam negara, Vietnam, Filipina, Thailand, Indonesia, Tiongkok, dan Singapura.

“Kemarin empat hari di Tiongkok. Selain dapat pelatihan, kita juga ada pertandingan untuk unjuk kebolehan,” jelasnya mengawali cerita.

Selama mengikuti camp, para peserta dapat kesempatan untuk ikut pelatihan bermain basket, saling unjuk kemampuan, dan menonton langsung pertandingan NBA antara Philadelphia 76s dan Dallas Mavericks.

Dia menceritakan, salah satu pengalaman tak terlupakan adalah dapat melihat langsung pertandingan NBA dan bertemu dengan pemain idolanya, Kyrie Irving.

“Bisa ketemu pemain  tenar sekelas Kyrie Irving menjadi pengalaman tak terlupakan,” ujarnya senang.

Awal mula dirinya suka basket yakni karena sering melihat pertandingan basket di televisi dan YouTube. Penampilan para bintang basket NBA membuatnya termotivasi untuk berlatih.

“Awalnya kelas IV SD suka diajak teman main basket. Saya juga suka nonton pertandingan basket. Kelas VI mulai latihan serius,” ujar cowok yang juga suka pertandingan bulu tangkis ini.

Untuk dapat mengikuti camp, siswa berusia 14 tahun ini pun harus bersaing dengan sejumlah pemain basket seluruh Indonesia. Hingga akhirnya terpilih delapan perwakilan untuk kategori putra dan delapan perwakilan untuk kategori putri.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku, selama proses seleksi, dirinya sempat minder. Lantaran melihat kemampuan pemain basket dari kota lain seperti Surabaya dan Jakarta yang lebih mumpuni.

“Saingan paling berat memang Surabaya dan Jakarta. Mereka lebih jago dan terlihat lebih terlatih,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, perjuangannya pun sempat terhenti ketika lututnya mengalami cedera. Ini membuatnya sempat pesimis untuk lolos seleksi. Namun dukungan dari keluarga, pelatih, dan teman-teman membuatnya kembali bersemangat dan optimis. Meski dalam masa penyembuhan, semangatnya untuk terus berlatih tetap menyala. “Lutut memang sempat cedera. Sebelumnya ada beberapa pertandingan. Puncaknya saat pertandingan PHBN agustusan kemarin,” jelasnya.

Bocah kelahiran 15 Februari 2004 ini mengaku jika ada sejumlah seleksi yang harus dilewati. Di antaranya tes kemampuan dasar dan kerja sama antartim. Ini yang membuatnya mengalami kesulitan. Pasalnya, waktu terbatas sehingga sulit untuk membangun chemistry dengan anggota lain.

“Karena waktunya terbatas dan memang kita dituntut untuk bisa kerja sama dengan siapa saja. Kesulitannya di situ,” ungkapnya.

Disinggung mengenai cita-cita, siswa kelas IX ini pun berharap dapat menjadi atlet basket nasional. Demi wujudkan mimpi, akan tekun berlatih basket setiap hari.

Menurut dia, basket sudah seperti kebiasaan. “Inginnya nanti bisa lanjut studi di Surabaya. Karena di sana basketnya lebih mumpuni,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia