Rabu, 19 Dec 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Jumlah Kasus DBD Meningkat

11 Oktober 2018, 12: 30: 59 WIB | editor : Anggi Septian Andika Putra

WASPADA: Seorang petugas sedang melakukan fogging di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, kemarin (10/10).

WASPADA: Seorang petugas sedang melakukan fogging di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, kemarin (10/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Marmer mengalami kenaikan. Itu berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung. Jika tahun 2017 tercatat sebanyak 128 kasus dengan empat kasus meninggal. Sepanjang tahun 2018 mulai dari Januari hingga September, meningkat menjadi 234 kasus dengan empat kasus meninggal. Kasus DBD paling tinggi terjadi pada Juni tahun ini, sebesar 45 kasus.

Menurut Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka, kasus meninggal karena terserang DBD disebabkan terlambat mendapat perawatan. Faktor cuaca juga turut mempengaruhi perkembangan nyamuk Aedes aegypti.

Pasalnya, tahun 2018 curah hujan cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2017. Meski mengalami peningkatan, kasus DBD di Tulungagung masih dapat ditangani. Dari semua penderita yang terjangkit DBD, bisa disembuhkan dan mendapat penanganan medis hingga sembuh.

“Penderita masih tertangani dengan baik hingga mereka sembuh sehingga masih aman. Yang meninggal biasanya karena terlambat penanganan,” terangnya kemarin (10/10).  

Dia menjelaskan, siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebenarnya bukan saat hujan terus-menerus. Melainkan ketika cuaca tak menentu. Sehari hujan sehari tidak. Saat tidak turun hujan inilah telur-telur nyamuk yang berada di genangan air menetas. Ditambah kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Faktor yang tidak bisa dihindari itu cuaca. Ditambah kesadaran masyarakat untuk melakukan PSN masih rendah,” terangnya.

Dia mengungkapkan, setidaknya ada tiga fase penyakit DBD. Gejala paling khas ketika terjangkit DBD adalah mengalami demam tinggi. Pada fase ini penderita akan mengalami demam tinggi secara tiba-tiba setidaknya selama 2 hingga 5 hari, disertai nyeri pada seluruh tubuh dan kulit memerah. Fase selanjutnya disebut fase kritis.

Dia menyebut fase itulah yang perlu diwaspadai. Pasalnya, demam akan turun dan penderita merasa sembuh.

“Fase ini terkadang menjadi pengecoh. Karena suhu tubuh turun dan penderita merasa sembuh. Padahal ini yang perlu diwaspadai trombosit turun,” jelasnya.

Fase terakhir dari DBD adalah fase penyembuhan. Pada fase ini penderita akan kembali mengalami demam. Untuk itu, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang dapat membantu meningkatkan jumlah trombosit. Seperti mengonsumsi jambu biji.

Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue yang ditularkan nyamuk jenis Aedes aegypti. Nyamuk aedes senang berada di genangan air dan pada daerah yang lembap. Seperti tempat penyimpanan air, talang hujan, dan lainnya.

Nyamuk yang memiliki ciri khas tubuh berwarna belang hitam putih ini kerap mencari mangsa pagi dan sore hari.

Meskipun tidak termasuk dalam KLB DBD, untuk menekan jumlah kasus DBD, dinkes mengimbau masyarakat melakukan PSN di rumah dan lingkungan masing-masing. Setidaknya seminggu sekali periksa dan buang genangan air di setiap tempat yang dijadikan penampungan air. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai agar tidak dijadikan sarang nyamuk. Menutup wadah atau tempat-tempat penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur.

“Untuk upaya preventif, kami melakukan penyuluhan, pencegahan sarang nyamuk ke masyarakat, serta fogging pada lokasi yang ditemui kasus DBD. Namun semua juga harus didukung masyarakat,” tandasnya. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia