Minggu, 21 Oct 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Sutanto,Pensiunan Guru SMP yang Juga Pelatih Paduan Suara Gita Jwalita

Jumat, 12 Oct 2018 15:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

EKSPRESIF: Sutanto saat melatih tim paduan suara Gita Jwalita di Pendapa Manggala Praja Nugraha.

EKSPRESIF: Sutanto saat melatih tim paduan suara Gita Jwalita di Pendapa Manggala Praja Nugraha. (AGUS MUHAIMIN/RADAR TRENGGALEK)

Sutanto dulunya adalah seorang pengajar mata pelajaran (mapel) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun karena hobi dalam olah vokal, dia pun mendapat amanah mengajar seni tarik suara di sekolah. Merupakan sebuah kebanggaan baginya, ketika melihat anak asuhnya bisa tampil di acara-acara besar.

AGUS MUHAIMIN

Entah sudah berapa kali lagu itu diulang. Beberapa personel grup paduan suara Gita Jwalita ini terlihat senyum-senyum setengah jengkel. Mungkin karena usahanya memadukan suara tetap saja alias belum sepenuhnya benar. Ada juga yang tampak mulai merasa kelelahan saat latihan di Pendapa Manggala Praja Nugraha sore itu.

Terlihat Sutanto berdiri di depan mereka. Sambil memegangi secarik kertas, tangan pria paro baya ini terus bergerak-gerak mengikuti suara keyboard. Sesekali matanya dipejamkan agar fokus pada pendengaran.

“Ulang, ulang! Suara kamu kurang jelas,” ujarnya sambil menunjuk ke salah seorang anggota paduan suara.

Latihan sore itu merupakan salah satu kewajiban sebelum paduan suara yang beranggotakan pegawai pemkab ini mentas. Maklum, selain mengiringi acara-acara kabupaten, grup ini juga sering di-booking oleh pihak luar. Biasanya untuk mengiringi acara-acara upacara yang membutuhkan paduan suara.

Nama paduan suara Gita Jwalita ini cukup moncer di Kota Keripik Tempe. Bukan karena grup itu besutan pemerintah, tapi karena memang memiliki kualitas yang cukup apik. Bahkan, beberapa tahun silam, grup ini dipercaya untuk mengiringi acara tingkat nasional.

“Waktu itu ada acara asosiasi kelistrikan yang datang dalam acara itu adalah orang nomor dua di Indonesia lho,” ungkap Sutanto kepada Koran ini.

Warga Desa Gandusari ini sudah belasan tahun dipercaya untuk memandegani grup paduan suara tersebut. Ini bukan perkara gampang. Sebab, mereka yang masuk dalam grup ini bukanlah orang-orang yang khusus memiliki keunggulan dalam olah vokal. Mereka adalah pegawai-pegawai yang dikirim oleh setiap organisasi perangkat daerah secara acak.

Hal ini merupakan tantangan bagi Sutanto. Dia harus bisa membentuk mereka sehingga ada kepaduan atau harmoni saat mengiringi atau menyanyikan lagu.

“Susahnya itu saat sering juga ganti-ganti personel. Jadi harus ngajari dari awal lagi,” katanya.

Secara umum, dalam sebuah paduan suara dibutuhkan beberapa jenis suara, yakni sopran, tenor, alto, dan bas. Selama komposisi atau pemilik suara jenis ini ada dalam sebuah grup paduan suara, dipastikan grup tersebut sudah lumayan enak untuk didengarkan. Dengan catatan ada kekompakan.

Latihan yang dijalani grup paduan suara ini hanya insidental saja. Mereka akan bertemu untuk latihan saat ada rencana atau acara manggung. Selebihnya, sangat jarang ada latihan khusus dalam grup tersebut. Itu karena cukup susah untuk mengatur jadwal agar bisa latihan bersama.

“Nah, agar konsisten ini juga cukup susah, ngatur jadwalnya itu, lho,” sebutnya.

Ini jelas berbeda ketika dia mengajar seni waktu SMP dulu. Karena kesibukan anak sekolah dengan orang dewasa jelas berbeda. Jika mempertimbangkan ini, Sutanto sadar dibutuhkan kesabaran dalam melatih orang dewasa yang memiliki banyak kesibukan tersebut. Tak hanya di lingkungan pekerjaan, tapi juga waktu untuk keluarga yang ada di rumah.

Untuk itu, saat ada waktu latihan dia tidak mau melepaskan kesempatan tersebut untuk latihan maksimal. Sehingga tak aneh jika para personel ini pun harus rela mengulang-ulang lagu saat latihan.

“Sebenarnya saya ini guru IPS. Tapi karena hobi menyanyi, sama pihak sekolah dipasrahi untuk memegang seni sekalian,” kenang Sutanto menceritakan awal mula menjadi pelatih tarik suara.

Pensiunan guru ini mengaku, menjadi pelatih paduan suara tidak hanya sekadar mengisi waktu di hari tua. Menurutnya, bisa mengantarkan anak didiknya piawai dalam olah suara dan mentas di momen-momen besar menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang guru. Tak terkecuali guru paduan suara ini. (ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia