Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Tulungagung

Temukan 35 Kasus Malaria di Tulungagung

Senin, 15 Oct 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

GRAFIS KASUS MALARIA

GRAFIS KASUS MALARIA (HENDRA NOVIAS/RATU)

TULUNGAGUNG – Penyakit malaria tampaknya masih harus tetap diwaspadai oleh masyarakat di Kota Marmer. Pasalnya, berdasarkan temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, kasus malaria mengalami kenaikan. Sebab, semua orang berisiko terkena malaria. Namun penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium dan ditularkan melalui nyamuk anopheles ini, paling rentan menimpa anak-anak dan orang lanjut usia (lansia).

Selain itu, orang-orang yang sering bepergian ke daerah endemis malaria juga berisiko terkena malaria. Berdasarkan data dari Dinkes Tulungagung, pada tahun 2017 telah terjadi 25 kasus malaria. Sedangkan untuk tahun 2018 hingga September, tercatat 35 kasus malaria.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka mengatakan, tingginya mobilitas masyarakat untuk bepergian ke daerah endemis malaria, menjadi faktor penyebab. Daerah endemis yang dimaksud, antara lain Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. “Banyak warga kita yang bekerja ke luar daerah. Seperti ke Papua atau Nusa Tenggara. Padahal daerah tersebut endemis malaria. Saat pulang, mereka terjangkit,” jelasnya kemarin (12/10).

Meski demikian, tak membuat dinkes tinggal diam. Pasalnya, sejumlah pantai di Tulungagung merupakan endemis malaria. Di antaranya Pantai Popoh, Sidem, Bayem, Klatak, dan Gemah.

Untuk menekan angka kasus malaria, dinkes melakukan berbagai upaya seperti menggunakan selambu berinsektisida. Selambu ini mampu membuat nyamuk mati ketika menembusnya.

Selain itu, juga mengoptimalkan keberadaan juru jentik. Terutama di daerah pantai yang berpotensi terdapat genangan air payau. Sebab, nyamuk vektor malaria banyak tumbuh di air payau. “Penanganan malaria berbeda dengan DBD. Kalau DBD bisa di-fogging, tapi malaria tidak,” tandasnya.

Pria ramah ini mengimbau pada masyarakat untuk lakukan upaya preventif. Seperti tidak begadang di luar rumah saat malam hari. Di samping itu, mengenakan pakaian panjang di malam hari dan menggunakan lotion anti nyamuk saat akan tidur. Sebagai upaya preventif untuk menangani malaria. Menjaga kondisi tempat tinggal tetap bersih dan membersihkan tempat-tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia