Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Kisah LMDH Wonoyoso Memulangkan Watu Joli ke Gunung Budheg

Rabu, 17 Oct 2018 14:51 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TULUS: Agus Utomo menunjukkan Watu Joli yang sudah kembali ke Gunung Budheg, kemarin (16/10).

TULUS: Agus Utomo menunjukkan Watu Joli yang sudah kembali ke Gunung Budheg, kemarin (16/10). (DHARAKA R. PERDANA/RATU)

Sebuah benda bersejarah memang tidak bisa dinilai dengan uang. Namun dari benda inilah, kisah sebuah tempat bisa diceritakan hingga anak cucu. Itulah yang membuat lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) Wonoyoso di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, bekerja keras memulangkan Watu Joli ke puncak Gunung Budheg. 

LAPORAN : DHARAKA R. PERDANA

Matahari kemarau bersinar terik ketika Koran ini menuju pos wisata Gunung Budheg di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat. Ya, dari bangunan sederhana inilah, proses pendakian ke gunung yang cukup populer di Kota Marmer ini dimulai.

Di situ tampak seorang pria yang sedang duduk di depan pintu sambil memainkan telepon pintarnya. Dialah Agus Utomo, ketua LMDH Wonoyoso yang ketiban tugas menjaga Watu Joli. Jika tidak bertugas di sebuah rumah sakit, dia dipastikan berada di sana agar tidak ada yang mengganggu benda bersejarah itu. “Mungkin baru kami yang bisa memulangkan sebuah benda bersejarah ke tempat asalnya,” katanya memulai obrolan.

Menurut dia, butuh kerja keras dan kesungguhan agar bisa memulangkan benda seperti itu. Mengingat pihak BPCB Trowulan, selaku intansi pelestari, memang cukup ketat menerapkan hal ini. Semua juga harus melalui proses administrasi yang panjang dan lama, hingga akhirnya mendapatkan hasil yang diimpikan itu.

Apalagi masih tergambar di benak Agus ketika pada 2012 atau enam tahun silam, kasus hilangnya batu yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit itu sampai melalui proses penyelidikan kepolisian. Mengingat benda berbentuk kubus itu ditemukan di sebuah tempat yang bukan asalnya di puncak Gunung Budheg sana. Puncaknya setelah dikoordinasikan dengan BPCB Trowulan, akhirnya diterbitkan SP3. “Bagi kami, keberadaan benda ini memang bisa menceritakan fungsi Gunung Budheg pada zaman dulu,” jelasnya sambil tersenyum.

Beruntung, upaya LMDH mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Bahkan segala kebutuhan untuk memulangkan benda itu ke puncak gunung selalu mendapat bantuan. Hingga akhirnya pihak BPCB Trowulan melihat kesungguhan dan keseriusan mereka dalam mengupayakan ini.

Alhasil, kini benda yang diduga menjadi lokasi peletakan abu jenazah orang suci itu bisa kembali ke gunung yang berada di dekat perbatasan Kecamatan Campurdarat dan Kecamatan Boyolangu ini.

Begitu benda yang memiliki lambang Surya Majapahit sudah berada di sekitar gunung, tugas selanjutnya adalah menjaganya. Beruntung, Agus mendapat bantuan dari satu anak asuhnya yang dengan setia juga turut menjaga. Alhasil, saat berada di tempat kerja, konsentrasinya tidak terpecah lantaran memikirkan benda itu.

“Kembalinya Watu Joli menuntut kami untuk terus menjaganya hingga nanti dipasang kembali ke lokasi asli di puncak gunung,” tutur pria berkulit sawo matang ini.

Sesuai rencana awal, paling lambat akhir bulan ini benda berbentuk kubus dan memiliki tutup ini akan dibawa ke puncak gunung. Dia pun ingin ada bantuan dari banyak orang agar terealisasi dengan lancar.

Apalagi benda ini menyimpan sejarah yang berhubungan erat dengan Tulungagung pada zaman dulu. “Kami ingin ada bantuan agar batu ini bisa tetap lestari. Meskipun tidak terlalu berpengaruh pada tingkat kunjungan wisatawan.

Mari kita semua merawat benda ini agar anak cucu bisa tetap tahu,” tandasnya. (*/ed/din)

(rt/rak/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia