Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Features

Raden Ali Sodik, Dosen yang Hobi Koleksi Uang Kuno

Sabtu, 20 Oct 2018 11:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

PRIMPEN: Uang kertas dan uang koin yang ditunjukkan oleh Raden Ali Sodik (kanan) dan saudaranya, Maulana Rosid, yang ditata di meja ruang tamu, kemarin (19/10).

PRIMPEN: Uang kertas dan uang koin yang ditunjukkan oleh Raden Ali Sodik (kanan) dan saudaranya, Maulana Rosid, yang ditata di meja ruang tamu, kemarin (19/10). (AGUS DWIYONO/RATU)

Meski memiliki aktivitas sebagai dosen, Raden Ali Sodik memilih hobi unik, koleksi uang kuno. Dia enggan menjual barang antik itu, meski banyak kolektor menggoda untuk membeli dengan nilai jutaan rupiah. 

AGUS DWIYONO

Minim warga di Kota Marmer ini yang miliki koleksi uang kuno dan masih terawat. Di antara sedikit orang tersebut, ialah Raden Ali Sodik.

Warga Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, itu ternyata punya sekitar 500 lembar uang kuno dari berbagai nominal, mulai 5 golden dengan bentuk wayang keluaran tahun 1935, uang 1 rupiah hingga 10 rupiah, dan lain sebagainya.

Tidak sulit mencari rumah pria yang sehari-hari sibuk sebagai dosen di salah satu  perguruan tinggi di Tulungagung ini. Sebab, tepat berada di samping salah satu masjid tertua di kabupaten ini, Masjid Al Mimbar,

Ali, sapaan akrabnya, yang merupakan keturunan ke-6 dari KH Raden Hasan Mimbar, tokoh penyebar agama Islam di Tulungagung, saat ditemui kemarin (19/10), tampak sedang menunggu kedatangan wartawan Koran ini. Karena memang terlebih dahulu membuat janji untuk bertemu.

Tak lama kemudian, bapak dua anak itu mengambil bukti beberapa uang kuno koleksinya untuk diperlihatkan. Tampak, ratusan uang kuno dibungkus plastik dan dibedakan sesuai dengan jenis, bentuk, maupun tahunnya.

Dia koleksi uang kuno mulai tahun 2007 silam. Itu saat menemukan empat uang kuno yang dipasang di pigora bekas peninggalan leluhurnya.

“Sebelum menikah sekitar tahun 2007, saya menemukan uang kertas bentuknya wayang orang, jumlahnya empat lembar. Yang jelas peninggalan dari leluhur keluarga,” jelasnya.

Dari situ, dia tertarikmencarilebihbanyak uangkunolainnya sebagai tambahan koleksi. Tak disangka justru saudara-saudaranyamendatangidirinya danmemberikanbeberapauang kuno dengan bentukdan nominal berbeda-beda.

“Saya dapat uang kuno dari saudara. Mereka memberi untuk dijadikan koleksi dan disuruh merawat,” ujarnya.

Selain itu, penambahan uang lain yakni dengan saling tukar-menukar antara penghobi koleksi uang kuno. Caranya, dengan menukarkan uang yang ganda dimiliknya.

Dia menjelaskan, kini koleksi uang kunonya sekitar 500 lembar dengan ukuran dan nominal berbeda-beda. Jika ditelisik berdasarkan tahun, uang yang paling lama tahunnya yakni uang dengan bentuk wayang yang dibuat tahun 1935 sebelum Indonesia merdeka.

“Uang kuno gambar wayang masih 5 sampai 10 golden empat lembar, dua setengah rupiah 132 lembar, 100 rupiah 69 lembar, dan lain lain,” ujarnya.

Menurutdia,hinggakini sering ada orangyangmenawar uang kuno miliknyadenganharga jutaanrupiah. Namundia tetap berniat mempertahankan untuk tidak dijual.

“Iya, akan terus  melengkapi uang kuno yang belum dimiliki. Nanti berencana akan kami buat museum pribadi,” ungkapnya. (*/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia