Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Masih Marak Kasus Penelantaran Anak

Sabtu, 20 Oct 2018 12:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

RIANG: Sejumlah anak saat asyik bermain di Taman Aloon-Aloon Tulungagung, kemarin (19/10).

RIANG: Sejumlah anak saat asyik bermain di Taman Aloon-Aloon Tulungagung, kemarin (19/10). (ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI/RATU)

TULUNGAGUNG – Dapat tumbuh di keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan harmonis, menjadi dambaan setiap anak. Namun, kasus penelantaran pada anak di masih marak terjadi. Berdasarkan data dari Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT-PSAI) Tulungagung, sepanjang tahun 2018 hingga September tercatat 24 kasus. Jumlah ini relatif sama jika dibandingkan dengan tahun 2017 sejumlah 27 kasus.

Menurut pekerja sosial ULT-PSAI Tulungagung Friez Sando Winarno Ivan, kasus penelantaran pada anak seperti fenomena gunung es. Jumlah yang tercatat lebih sedikit jika dibandingkan yang terjadi di lapangan.

“Jumlah yang ada di kami memang sedikit jika dibandingkan dengan di lapangan. Yakni tercatat 24 kasus. Namun fenomena kasus mirip gunung es,” jelasnya ketika ditemui kemarin (19/10).

Lanjut dia, kasus penelantaran merupakan kasus kompleks. Sehingga akan merembet pada kasus-kasus lain. Seperti tidak terpenuhinya hak anak di bidang pendidikan dan kesehatan.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus penelantaran pada anak. Di antaranya faktor ekonomi dan anak tumbuh dalam keluarga broken home. “Paling utama adalah permasalahan ekonomi dan dapat merembet pada masalah lain, seperti broken home,” terangnya.

Sebuah keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi akan membuat orang tua cenderung abai dengan anak. Untuk kasus yang lebih parah, dapat memicu pertengkaran-pertengkaran orang tua. Sehingga menimbulkan kasus perceraian. Jika sudah demikian, anak dapat kehilangan figur orang tua dan akan berpengaruh dalam perkembangan psikologis anak.

Pria ramah ini menjelaskan, secara ideal anak seharusnya tumbuh dan berkembang dengan pendampingan kedua orang tua, yakni ayah-ibu. Karena sebuah keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak.

“Hilangnya figur ayah-ibu dalam perkembangan anak akan berpengaruh pada psikologisnya. Anak cenderung acuh dan tidak peduli,” ungkapnya.

Beberapa dampak jika anak tidak membutuhkan figur orang tua. Sebab, tidak ada sosok orang tua yang menjadi panutan dan mendampingi tumbuh kembangnya. Sehingga anak cemderung bersikap acuh dan tidak peduli.

Tak hanya itu, anak juga dapat mengalami trauma dengan peristiwa perceraian orang tua.

“Ada beberapa kasus yang kami tangani. Dampak pada anak, dia tidak lagi membutuhkan figur orang tua dan cenderung acuh,” jelasnya.

Untuk itu, diperlukan adanya pendampingan secara psikologis bagi anak-anak korban penelantaran. (nda/ed/din)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia