Kamis, 15 Nov 2018
radartulungagung
icon featured
Hukum & Kriminal

Kena OTT, Belum Tetapkan Tersangka

Sabtu, 20 Oct 2018 13:00 | editor : Anggi Septian Andika Putra

TERUS DIKEMBANGKAN: Polisi menunjukkan barang bukti hasil OTT di Puskesmas Pule

TERUS DIKEMBANGKAN: Polisi menunjukkan barang bukti hasil OTT di Puskesmas Pule (ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK)

TRENGGALEK - Masih mencari tambahan barang bukti, mungkin itulah yang terjadi dalam operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan pungutan liar (pungli) dana jasa pelayanan (jaspel) kesehatan di Puskesmas Pule. Pasalnya, kendati satreskrim bersama Unit Pemberantasan Pungutan Liar (UPP) Trenggalek telah melakukan OTT pada Rabu (17/10) lalu, hingga kemarin (19/10) belum ada penetapan status tersangka.

Alasannya, penyidik masih mengembangkan proses penyelidikan terhadap sejumlah saksi. Di antaranya tujuh orang pegawai negeri sipil (PNS) puskemas setempat yang disebut sebagai tim teknis. Tim teknis tersebut bertugas mengoordinasi jumlah uang yang nantinya diberikan oleh 65 pegawai atau staf penerima jaspel kesehatan sebesar 10 persen dari jumlah yang diterima.

“Karena tugasnya seperti itu, mereka (tim teknis, Red) memberikan amplop kepada pegawai puskesmas penerima jaspel kesehatan yang sudah ada tulisan nama dan nominal yang harus dibayar,” ungkap Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibawa Saputra.

Dia melanjutkan, nantinya amplop tersebut oleh pegawai bersangkutan diisi sejumlah uang seperta yang tertera dan dikembalikan kepada tim teknis. Kemudian, uang dalam amplop dikumpulkan menjadi satu untuk penyelenggaraan kegiatan sesuai kesepakatan para pegawai. Namun, setelah menerima uang tersebut, diduga tim teknis menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Mengingat tidak ada bukti tertulis terkait rincian penggunaan uang iuran tersebut.

“Hal ini masih dalam penyelidikan kami. Tidak menutup kemungkinan tim teknis statusnya ditingkatkan dari saksi menjadi tersangka,” katanya.

OTT yang terjadi sekitar pukul 13.00 tersebut bermula dari penyelidikan anggota terkait ada dugaan pungli di puskesmas tersebut. Dari hasil penyelidikan itulah polisi langsung melakukan pengecekan di lokasi.

Hasilnya, di tempat tersebut terdapat 48 amplop yang tertuliskan nama beserta iuran yang harus diberikan, dengan jumlah total sebesar Rp. 28.719.000. Diduga uang tersebut merupakan iuran triwulan III tahun 2018.

Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan petugas diketahui bahwa pengumpulan iuran jasa pelayanan yang dilakukan oleh tim teknis tersebut, sudah dilakukan sejak tahun 2017 silam. Sedangkan pada 2018 ini hasil pengumpulan uang tersebut tercatat sebesar Rp 142.480.904, yang terbagi menjadi triwulan I sebanyak Rp 72.425.904, triwulan II Rp 41.336.000, serta triwulan III Rp 28.719.000, yang kini telah diamankan polisi.

“Kami akan berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti kejaksaan dan inspektorat untuk mengungkap kasus ini. Sebab, tidak menutup kemungkinan juga terjadi di puskesmas lainnya,” jelas Didit.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Inspektorat Trenggalek Bambang Agus Setiaji enggan berkomentar lebih jauh. Sebab, kini inspektorat masih menunggu perkembangan dari pihak kepolisian terkait OTT dilakukan.

“Kami belum bertindak apa-apa terkait hal itu. Masih menunggu jalannya proses hukum,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Trenggalek ini. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia